Passion #11




Ah
Veasna mengeluarkan uang dari dalamdompetnya.Dengan mata berbinar,dia menghitungnya.“Semua ada 100 ribu”tak sampai tiga jam dia berjualan,dagangannya sudah habis. 

Veasna lalu mencatat pendapatan hari itu ke dalam sebuah buku cash flow yang berisi catatan pendapatan dan pengeluaran.Yang ia pelajari dari Bu Mul.Lalu, sebagian uangnya ia masukkan kedalam celengan, setelah dipotong pengeluaran untuk belanja nanti. Hari-harinya semakin sibuk, setelah ia memutuskan untuk berjualan lauk pauk matang. Veasna menyasar ibu-ibu yang sibuk bekerja, dan tak sempat memasak untuk keluarga mereka.


Veasna mencari neneknya, yang sedang berada dikamarnya.Diketuknya pintu kamar nenek.”Nek….nenek?”
“Masuklah, pintunya tidak dikunci.”

Kreeeeekkkkk…..

Veasna melihat neneknya sedang duduk dipembaringan, diatas tangannya ada sebuah alquran.Nenek sering menghabiskan waktunya untuk mengaji, bila tak ada pekerjaan yang dilakukannya.Saat kecil dulu, Veasna dan kedua adiknya suka jatuh tertidur saat mendengar suara nenek mengaji. Bagi mereka suara nenek seperti nyanyian lullaby yang menenangkan jiwa-jiwa mereka.

“Bagaimana jualanmu hari ini Veas?nenek meletakkan alquran diatas meja, disamping tempat tidurnya

“Alhamdulillah,habis nek.” Veasna kemudian menyerahkan sejumlah uang pada neneknya.
“Uang apa ini nak….?”nenek keheranan.

“Ini uang,untuk sayuran yang Veasna ambil dari kebun.Veasna ingin nenek menyimpannya.”
“Veasna saja yang simpan.Nenek tidak butuh uang, untuk apa juga uangnya.Semua kebutuhan nenek sudah kalian sediakan.”Nenek mengembangkan senyumnya.”Nenek tidak perlu apa-apa lagi.” Nenek mengembalikan lagi ketangan Veasna.

“Tidak bisa begitu nek, nenek kan butuh uang untuk beli pupuk dan bibit.Nenek kan juga butuh uang, siapa tahu Kya dan Kissa meminta uang pada nenek, atau nenek ingin membantu orang lain, kan nenek bisa menggunakan uang ini. Memang belum banyak sih, nek. Tapi Veasna berjanji….akan tetap membayar sayur yang Veasna pakai untuk berjualan.” Veasna memaksa sang nenek, lembut.

Nenek tak bisa menolak lagi.

“Oh ya nek…..Tante Langsing memesan 10 bungkus pepes ikan, dan sayur lodeh 4 bungkus untuk besok pagi.Maukah nenek, membagi resep pepes ikan nenek yang maknyuss dn makjoss itu.”Veasna menengadahkan wajahnya ke nenek. Yang menyambutnya dengan senyum bahagia.

“Apapun untuk Veasna, nenek akan kasih.” Nenek mengusap kepala cucunya itu lembut.Semakin besar, wajah Veasna mirip dengan bapaknya. Sifatnya juga mirip, sabar dan penyayang.Sedangkan sifat keras kepala dan gigih menurun pada Mandika, mantunya.

***
Tepat jam lima pagi.Veasna sudah berada didepan warung Tante Langsing. Yang masih dalam keadaan tertutup.Ia tak tahu, kenapa Tante Langsing memintanya membawa pesanannya sepagi itu.Suasana disitu masih gelap.Penerangan hanya dari lampu bohlam 10 watt didepan warung Tante Langsing.

Veasna celingak celinguk mencari perempuan bertubuh subur itu. Dia tak berani memanggil namanya, sebab, itu permintaan Tante Langsing. Meskipun agak aneh, tapi Veasna menurutinya.

“Veas…veasna….”lamat-lamat ia mendengar seseorang memanggil namanya. Tak ada orang lain disana selain dirinya.

Puk……
Sebuah kerikil mendarat dibadannya.Veasna jadi geregetan sendiri. Iseng banget sih, gerutunya dalam hati.

“Veasnaaaaaaaaa……!!Tante langsing disini.”Perempuan itu menyembulkan badannya dari balik semak-semak, disamping tokonya

Veasna kaget,tak menyangka Tante Langsing bersembunyi disitu. Veasna mendekatinya.”Ngapain Tante disitu, awas kena ulat bulu lho tan.”kata Veasna iseng. Tante Langsing mudah bercanda dan enak diajak ngobrol, dia juga baik hati,tidak pelit dan tidak sombong.

“Mana pepes dan sayur lodehnya”

Veasna membuka keranjangnya dan mengambil pesanan Tante Langsing dan segera memberikannya.

“Kamu tidak menambahkan bahan apa-apa dalam masakanmu kan Veas?” ia tak mau terkecoh lagi dalam hal membeli makanan.Banyak penjual yang curang dengan menambahkan bahan pengawet dalam masakannya supaya tidak cepat basi.

“Dijamin 100 persen aman.”

Tante Langsing tersenyum puas. Dia lalu membuka dompetnya dan mengambil uang seratusan ribu dan memberikannya pada Veasna.”Sisanya buat kamu”

“Terimakasih Tan…..”

Veasna mengayuh sepedanya, dengan hati riang.mensyukuri berkah yang didapatnya pagi itu. Sepanjang perjalanan dia bernyanyi kecil.

Lantas,ditengah perjalanan dia bertemu dengan sekumpulan remaja yang akan berangkat kesekolah.Wajah-wajah ceria yang sedang menunggu angkutan umum. Kemudian matanya menangkap sesosok gadis, dengan lesung pipi dan senyumnya yang manis.Ia terlihat makin ayu dengan rambut panjang yang diikat ekor kuda. Rambutnya bergoyang-goyang saat dia bercengkrama dengan teman wanitanya.

Dada Veasna berdebar,ia seketika menghentikan sepedanya,dan hanya  memandangnya dari jauh. Meskipun ia sangat ingin menyapanya.Cukup lama dia berdiri disitu, sampai sebuah angkutan umum  membawa gadis itu pergi.

Veasna menghela nafas panjang. Rasa kecewa menyelimuti hatinya.Andai saja, dia bisa menghentikan waktu beberapa menit saja.

“Semoga besok bisa bertemu lagi”gumannya penuh harap.Ah…..kenapa dia menjadi berimajinasi sendiri, membayangkan bisa bercengkrama dengan si pemilik lesung pipi itu. Tapi……mampukah dia menyapanya?sekelebat rasa minder menyergap hatinya. Dia bukan pelajar, seperti dirinya. Dia hanyalah penjual makanan keliling. Kenyataan seketika membuat imajinasinya perlahan mengabur.

Veasna sampai tak sadar, ia telah sampai dirumahnya.Ibunya tiba-tiba muncul dari dalam rumah.

“Veasna…..barusan Tante Langsing telepon.kamu disuruh cepat-cepat kembali kerumahnya.” Kata Ibu cemas,khawatir Veasna melakukan sesuatu yang buruk. Telepon itu juga hadiah dari Tante Langsing, supaya dia bisa cepat berkomunikasi dengan ibu.

Tanpa diminta dua kali, remaja itu mengayuh sepedanya kembali ke rumah Tante Langsing, dengan berbagai pertanyaan muncul dikepalanya. 

Mungkinkah Tante Langsing tak menyukai masakannya. Atau ada yang membuatnya tak berkenan. Tapi apa?

***
Badan Veasna basah kuyup oleh keringat, ketika sampai dirumah Tante Langsing. Sesampainya disana. Ia tak melihat Tante Langsing di warungnya. Disana hanya ada seorang lelaki bertubuh subur, sama dengan Tante Langsing. Dengan muka bulat lucu, dengan gigi tonggos kedepan, dengan rambut ikal. Wajahnya sekilas mirip dengan pemain film komedi terkenal, Dono.yang membedakan hanya kumis tebalnya.

“Selamat pagi om……Tante Langsing ada?”

Lelaki itu tak menjawab. Dia mendengus kasar. Dan Berdiri. Matanya menatap Veasna dari ujung kaki sampai kepala. Seolah ingin menelannya mentah-mentah. 

“Tidak ada yang namanya Tante Langsing disini.Kamu salah alamat. Cepat pergi sana.”
“Tapi…om….Saya tidak salah alamat. Ini memang benar rumahnya Tante Langsing.” Veasna tak mau kalah.

Lelaki itu marah….”Bagaimana kamu tahu, heh” Mulut besarnya mendekat kewajah Veasna. Veasna memiringkan kepalanya.

“Jelas Saya tahu. Satu jam yang  lalu saya kesini ,mengantarkan pepes ikan dan sayur lodeh pesanan Tante Langsing. Dan om sudah mencicipi masakan saya.Bagaimana?Enak nggak om ” Kata Veasna tenang.

Lelaki itu melotot. Dan menarik  kepala Veasna kebawah keteknya. Veasna cepat-cepat menutup hidungnya.
“Oh….jadi kamu yang membuat saya mabauk pagi-pagi” Lelaki itu menjitaki kepala Veasna tanpa ampun. Ia tak mengindahkan perkataan Veasna yang protes.







Comments

Post a Comment

Tulisan Beken