Passion #6



Dia Yang Takkan Pernah Kembali

Dimalam gelap dan berkabut, Mandika berdiri ditepi jalan menunggu anaknya, Veasna. Angin dingin di bulan Agustus, menerpa kulitnya. Ia merapatkan lilitan sarung milik almarhum suaminya ke lehernya. Dalam ketidakpastian dan rasa khawatir, matanya terus melihat ke ujung jalan. Lengang, tak ada tanda-tanda seorangpun lewat. Perempuan itu bergumam dan mulutnya komat-kamit, membaca doa. Supaya Veasna baik-baik saja.


Kakinya mulai pegal, ia bersimpuh sebentar, lalu berdiri lagi. Mandika benar-benar khawatir pada Veasna “Tuhan…..tolong lindungi putraku.”

Samar-samar, matanya menangkap lampu motor. Semakin lama semakin jelas. Kemudian, motor yang ditumpangi seorang lelaki itu berhenti didepannya. Lelaki itu, lalu membuka helmnya. Mandika sangat mengenal lelaki itu. Dialah Pak Tarno, wali kelas Veasna. Yang selama ini, memperlakukan Veasna dengan sangat baik.

“Bapak mau kemana, malam-malam begini….? Tanya Mandika

“Saya mau kerumah ibu.” 

Jawaban Pak Tarno mengejukan Mandika. Ada apakah ini? Insting keibuannya, menyeruak.
 “Pak Tarno….dimana Veasna!! Tangan Mandika mengguncang tubuh Pak Tarno.

“Tenang…bu. Mari kita kerumah ibu dulu, tak baik berbicara ditepi jalan.”

Dengan langkah lebar, Mandika mendahului Pak Tarno menuju rumahnya. Setibanya dirumah, dia lalu membangunkan ibu mertuanya. “Bu….bangun, Pak Tarno, guru Veasna ada diluar, sepertinya ada hal penting yang ingin disampaikannya?

“Veasna tidak apa-apa kan? Tanya perempuan tua itu dengan raut sangat khawatir.
“Entahlah bu…..?”

Mandika lalu keluar menemui Pak Tarno, yang menunggunya diteras. Ibu mertuanya menyusul kemudian.

“Begini….bu. Veasna kecelakaan. Dia berada di Rumah Sakit sekarang.”

“Ya Tuhan……..bagaimana bisa pak? Ceritanya bagaimana?Apakah dia baik-baik saja? Mandika dan ibu mertuanya mulai menangis. Bayangan buruk akan suaminya, kembali terbayang dipelupuk mata Mandika. Ketakutan akan ditinggal pergi oleh anak sulungnya, membuat tubuh perempuan itu terkulai. Mandika pingsan.

“Mandikaaaa!!!!!” Jerit ibu mertuanya.

***
Menjelang ashar, didepan sebuah toko kelontong, Veasna melihat Zamrony berdiri. Gelagatnya amat mencurigakan. Dia ingin memanggilnya. Namun tak ia lakukan. Matanya mengikuti Zamrony. Saat itu, suasana toko masih sepi. Tak ada pembeli, Lalu saat pegawai toko masuk kedalam,Zamrony masuk dan tangannya cepat-cepat memasukkan beberapa selop rokok ke dalam tasnya, serta mengambil uang dikasir. Setelah itu dia dengan tenang pergi dan berjalan kearah pasar. Badan Veasna seperti tersengat bisa ular, dia seakan tak percaya dengan apa yang telah dilihatnya. Otak Veasna membeku untuk beberapa detik. Dia baru sadar, takkala Zamrony jauh dari pandangan matanya. Buru-buru dia mengayuh sepedanya kencang,mengejar Zamrony.

“Zamrony………..!!!!!

Veasna berteriak memanggil nama Zamrony yang jaraknya tinggal beberapa langkah darinya.
Mendengar namanya dipanggil, Zamrony menoleh dan melihat Veasna dibelakangnya. Spontan, remaja itu berlari.

“Zamronyyyyyyyyy....tungguuuuuuuuuuuuuu! Veasna semakin mempercepat mengayuh sepedanya. Ini kesempatannya. 

Tiba-tiba ada sekelompok laki-laki bertampang seram, menghadang langkah Zamrony. Lalu salah seorang dari mereka, tiba-tiba memukuli Zamrony. Zamrony hanya bisa mengaduh kesakitan. Sedang Veasna hanya bisa terpaku melihatnya. Suaranya seperti tercekik dilehernya. Kemudian merekapun pergi dengan membawa tas yang dibawa Zamrony. Veasna mendekati Zamrony

“Zamrony…....” Veasna gugup melihat muka sahabatnya babak belur.

Melihat Veasna, Zamrony seperti ketakutan dan langsung berlari menjauh darinya. Veasna semakin tak mengerti dengan Zamrony. Kenapa dia menghindarinya? Mungkinkah dugaan nenek benar, bahwa Zamrony yang mengambil uangnya. Pikirannya menjadi tak focus. Tiba-tiba brukkkkkkkkkkkk…..ada yang menabrak sepedanya. Dia terjatuh. Veasna masih sadar. Dia berdiri. Dan melihat motor yang menabraknya berjalan zigzag, pengemudi motor itu semakin gugup saat berpapasan dengan truk, dan tak terkendali. Dan untuk kedua kalinya dia menabrak Zamrony yang kaget saat melihat Veasna ditabrak. Dia tak sempat menghindar. Anak itu terpental kesamping, lalu disambut oleh roda motor Jeep, dan tanpa ampun melindas tubuh anak itu. Veasna berteriak histeris, Zamronyyyyyyyyyyyyyyyyyyy!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Tanpa mengindahkan rasa sakitnya, Veasna berlari kearah Zamrony. Orang-orang mengerumuni mereka.Kemudian membawa Zamrony ke pinggir jalan, sambil menunggu ambulance.

Dalam pelukan Veasna, susah payah Zamrony berkata.”Maaffffkaaaannn aaaaakuuuuu Veasnaaaaaa. Aaaaaakuuuuuu yaaaaaangggggg mengaaammmbillllll uangmu.” Nafasnya semakin tersengal dan payah.

Veasna menangis, dia ketakutan melihat darah yang keluar begitu banyak dari mulut Zamrony. “Nggak papa, Ron. Jangan dipikirkan……?” kata Veasna terisak. Namun sahabatnya tak menyahut. Kepalanya terkulai dalam pelukannya. Veasna mencoba membangunkannya.
“Zamronyy…..bangun. Kita kedokter, kamu pasti sembuh…?” 

Zamrony..tetap diam. Seorang lelaki memeriksa urat nadinya. Dia membuang nafas pelan. “Innalillahi wa inna ilahi rojiun. Sabar ya nak….temanmu sudah meninggal dunia.”
Mendengarnya Veasna menjadi terpukul. Ditatapnya lagi wajah Zamrony.”Selamat jalan sob…..” katanya dengan airmata deras mengucur.

Lalu mobil polisi dan ambulance datang. Dan membawa Veasna serta jenasah Zamrony ke Rumah Dia baru tahu, lengannya patah setelah didalam ambulance. Dia sampai heran sendiri, karena dia tadi tak merasakan sakit apapun, saat melihat tubuh Zamrony digilas oleh roda Jeep.
***
Veasna menatap kosong keluar jendela Rumah Sakit. Dia mulai bosan,berada diatas tempat tidur,tanpa melakukan apapun.Rasa sedih masih terpendar diraut wajahnya. Meskipun ibu,Pak Tarno dan Alisa sudah menghiburnya.

Ingatannya masih belum lepas pada Zamrony. Kemarin sahabatnya itu dimakamkan, tanpa kehadiran dirinya. Dia merasa bersalah. Selama ini dia tak begitu perhatian dengannya. Sebagai sahabatnya, ia malu. Dia hanya sibuk dengan dirinya sendiri. Dia tak pernah tahu, bahwa dibalik keceriaan Zamrony, ternyata menyimpan sejuta duka. Bisnis ayahnya bangkrut. Ayahnya pergi entah kemana, sedang ibunya sakit-sakitan dirumah. Belum lagi para debt kolektor yang tiap hari menyambangi rumahnya. Zamrony menjadi pupus harapan. Lalu dia mengambil jalan instan dengan menjual narkoba. Namun uangnya tidak ia berikan pada bossnya. Ia menggunakan uang itu untuk mengobati sakit ibunya, dan sebagian untuk membayar hutang ayahnya. Ia tahu semua cerita itu dari teman Zamrony.

Alisa kembali datang menjenguknya. Lesung pipinya selalu menghiasi wajahnya saat melihat Veasna.

“Senyum dong Veas….masak kamu murung saja. Aku tahu kamu bersedih. Tapi…dengan terus-terusan bersedih tak baik juga. Emangnya dengan begitu uangmu bisa kembali? Warung Pak Mul bisa kembali atau Zamrony hidup kembali? Alisa terkekeh, dan mengupaskan jeruk dan memberikannya pada Veasna.

Veasna mengambilnya dan memakannya pelan.

“Aku merasa bersalah pada Zamrony lis, aku egois…….”

“Seperti itu....kurasa tidak. Emang yang salah Zamrony. Mestinya dia cerita kekita, kenapa dia diam saja. Malah mengambil jalan pintas. Ya mungkin sudah takdir Zamrony..begitu. Kita bisa apa lagi.Terus menangisinya percuma. Sekarang focus ke dirimu sendiri, Veas. Bukankah kamu ingin melanjutkan sekolah? Kata Alisa ceplas ceplos. Dia tak suka melihat Veasna cengeng.

“Entahlah……hal itu hanya membuatku bersedih.” Jawab Veasna tak bergairah.
“Lantas…..apa rencanamu?” Tanya Alisa lagi

Veasna mengangkat kedua bahunya. Ia sama sekali tak ada bayangan akan melakukan apa. Yang diinginkannya sekarang hanyalah satu. Keluar dari Rumah Sakit.

Lama –lama disini, tak enak. Veasna kasihan dengan ibunya, yang terpaksa libur bekerja. Ia kepikiran sama nenek dan sikembar, Kya dan Kissa. Veasna tersenyum kecut, dan merasa bersalah telah menuduh adiknya mencuri uangnya.









Comments

Post a Comment

Tulisan populer