Passion #8




Senyum Ibu

Pagi itu, langit mendung, dan tetesan gerimis mulai turun dari langit. Kaki Mandika semakin cepat mengayuh pedal sepedanya,menuju kesekolah. Mandika sengaja mengantarkan Veasna kesekolah,karena tangan Veasna belum pulih setelah mengalami kecelakaan. Dan hari ini adalah hari pertama ujian akhir sekolah. Sekaligus memberi dukungan pada pada anaknya.


Titik-titik hujan mulai deras. Veasna mendekap rapat tasnya kedalam dadanya. Ia khawatir bukunya basah.Veasna melihat rambut ibunya yang mulai basah terkena air hujan.”Ibu….hujannya semakin deras.”Dan disana tidak ada tempat untuk berteduh,kanan kiri mereka hanyalah persawahan.

“Ibu tahu…nak. Tapi…ini masih setengah perjalanan. Kita tak boleh berhenti, sebab ibu takut kamu terlambat ujiannya.” Kata Mandika, sembari mengayuh pedal sepedanya cepat-cepat. Senyumnya masih mengembang. Dalam kondisi kehujanan, tak membuat semangatnya menyurut, dia malah mendendangkan lagu sambalado milik ayu ting ting, dengan nada riang.

sambala sambala bala sambalado
terasa pedas, terasa panas
sambala sambala bala sambalado
mulut bergetar, lidah bergoyang

Hati Veasna yang mendengarnya turut gembira. Di tempat kerjanya dulu, Pak Mul suka memutar lagu ini.Ibu dan anak ini akhirnya kompak bernyanyi, seolah tak membiarkan hujan mencuri keceriaan mereka pagi itu.
Kemudian, tanpa diduga, dari arah berlawanan, ada mobil pick up yang berjalan dengan kecepatan tinggi. Memuncratkan sebagian air yang telah bercampur lumpur ke baju seragam putih Veasna. bukan hanya bajunya yang terkena, wajah Veasna juga. Mandika, lantas menghentikan sepedanya dan terawa melihat wajah Veasna yang kotor karena lumpur.”Hahahhahaha…wajahmu lucu, nak. Sayang ibu nggak ada cermin.” Kata Mandika sambil mengusap wajah anaknya dengan ujung bajunya. Ia sengaga mencandai Veasna supaya dirinya tidak nelangsa dengan yang terjadi barusan.

Melihat senyum ibu, Veasna seperti sebuah matahari didepannya. Semangat yang tadi luntur, mulai membara lagi.

“Ayo..cepatlah naik naik, nak. Kita berangkat lagi.” Ajak ibu bergairah.
“Siapa takut, kita dua pejuang sejati, ia kan bu.”

Ibu mengangguk gembira.Dan kembali mengayuh sepedanya dengan antusias. Melihat semangat ibu,Veasna berjanji dalam hatinya, akan membahagiakan ibunya.
Mereka tiba disekolah dalam keadaan basah kuyup, seperti tikus kecebur dalam got, 20 menit sebelum pelajaran bel berbunyi. Dan lucunya, disekolah tak ada hujan sama sekali. Tanahnya kering kerontang, membuat anak-anak disana tersenyum saat melihat mereka.

“Hallo tante, hallo Veasna…” Alisa menyapa mereka di depan pintu gerbang. Dengan cekatan tangannya memberikan tissue kepada Mandika. Mandika menerimanya dengan sukacita. Dan membersihkan mukanya yang terkena lumpur. Saat dia ingin membersihkan wajah Veasna, dia mengurungkan niatnya.Tampak jelas, mata Veasna berbinar-binar melihat wajah Alisa.Kemudian dia berpamitan pada Veasna.

“Ibu kepasar dulu, nak. Nanti ibu jemput lagi kesini, okey” katanya dengan senyum mengembang.

Veasna dan Alisa melambaikan tangannya pada Mandika.
“Gimana tanganmu, Veas, apa sudah baikan?” Tanya Alisa, ingin tahu.Setelah  kehilangan pekerjaan, kecelakaan serta kehilangan Zamrony, Veasna kehilangan semangat hidupnya. Hampir 1 bulan setengah dia tak masuk sekolah.
“Sudah baikan”kata Veasna singkat.

“Aku iri sama kamu Veas. Ibumu sangat sayang padamu. Apa kamu tahu, menjelang jam pulang sekolah, ibumu selalu datang kesekolah dan mencatat semua pelajaran hari itu, dengan cepat. Kadang dia meminjam dariku atau anak lain. Tak peduli hari hujan ataupun cerah. Ibumu selalu datang.Hal itu diketahui oleh Pak Tarno, maka kemudian, Pak Tarno sendiri yang mencatatkannya dan memberikan pada ibumu.Kalau  ada pelajaran yang belum ibumu mengerti, ibumu akan bertanya pada guru yang bersangkutan. Dia rela, datang kerumah mereka. Aku mengetahui hal ini, karena tak sengaja, mendengar percakapan para guru. Mereka semua salut sama kegigihan ibumu, Veas. Jadi…saat kamu patah semangat waktu itu, aku sangat gemas kepadamu.”

“Benarkah?”kata Veasna dengan perasaan terkejut. Ia sama sekali, tak mengira, ibunya akan melakukan hal itu.Hati Veasna semakin teriris, mengingat kelakuannya.
“Iya! Aku tak bohong. Ibumu sangat ingin melihatmu lulus.” Timpal Alisa lagi.”Kalau aku jadi kamu, Veas. Aku enggak bakalan menyusahkannya.”

Perkataan Alisa menohok sanubari Veasna. Anak laki-laki itu tertunduk menekuri sepatunya yang kusam dan basah. Sepulang sekolah nanti, dia akan meminta maaf pada ibunya.
***
Siang itu, pengumuman kelulusan sekolah. Orangtua dan murid kelas tiga berkumpul di aula sekolah.Ada banyak wajah disana, gembira, sedih, datar dan biasa saja. Alisa dan Veasna mendapatkan penghargaan dari sekolah.Kedua anak itu sama-sama mendapatkan nilai tertinggi disekolahnya. Nilai Veasna bahkan tertinggi ditingkat kabupaten.

Mata Mandika berembun, hatinya bercampur aduk, antara gembira dan sedih. Hari ini dia melihat anaknya lulus dengan nilai tertinggi disekolahnya, namun disisi lain, anaknya harus menanggung rasa sedih, karena tak dapat melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya. Tanpa Veasna tahu, dia sudah mencari tahu biaya masuk sekolah yang diinginkan oleh Veasna. Alisa memberitahunya. Sekolah itu memang bagus, dan fasilitasnya juga lengkap. Tapi biaya masuk kesana mahal,sekitar 4 juta rupiah. Uang tabungannya masih kurang banyak. Untuk berhutang atau menggadaikan sertifikat rumah, ia tak berani. Ia takut hutang menambah beban hidupnya. Mandika cepat-cepat menyusut airmata disudut matanya, melihat Veasna mendatanginya.

“Ibu…terimakasih, telah banyak membantu Veasna. Veasna sekarang lulus.”Anak itu memberikan piagam dan hadiahnya pada ibunya. Matanya berkaca-kaca.”Dan ibu tak usah bersedih, Veasna tak apa-apa tak melanjutkan sekolah. Veasna akan membantu ibu bekerja. Biar Kya dan Kissa yang sekolah.”

Mandika mengangguk, mereka berpelukan. Disudut lain. Ada seseorang yang melihat mereka dengan perasaan terharu.








Comments

Post a Comment

Tulisan populer