Katanya Diet? Kenapa Masih Gendut?


Itu pertanyaan yang paling menyebalkan yang kudengar selama hampir dua bulan ini. Mending nanyanya manis, lah ini nadanya sengak begitu, apa nggak bikin dongkol.

Fiuh......sambil gigit jempol.

Dari kecil sampai sekarang, aku suka dibully, soal berat badan. Tubuhku yang tak begitu tinggi dan berat badan sekitar 65 Kg, plus memiliki “bukit” yang membulat. Membuat aku kelihatan lebih montok. Dari perempuan pada umumnya. 


Untungnya aku masih memiliki stock kesabaran, jadi semua kesinisan itu kujawab dengan senyuman manis, walaupun tanganku sepertinya gatel pengen mencet-mencet hidungnya. Yach..keseringan yang ngatain itu, orang yang kurus. Yang meskipun makan nasi sebakul tetep aja kurus. Mereka menyamaratakan dirinya dengan orang lain. 

Karena sering dibully dan sudah kenyang ngerasain gimana nggak enaknya ketika orang melabeli kita. Disitu aku belajar untuk lebih menghargai orang lain, apapun kondisinya. Nobody’s perfect. Lebih baik melihat sisi baiknya, daripada sisi buruknya.
Apakah aku pernah kurus? Pernah dunk.....saat mobilitas kerja tinggi, dan saat keluargaku dilanda masalah berat. Etapi..kurusku saat itu nggak sehat. Bukannya kelihatan seksi, malah seperti zombie berjalan.

Secuek-cueknya aku. Lama-lama risih juga dengerin orang ngomong soal “kegendutanku” namanya juga perempuan, pengenlah sesekali mendengar kata-kata pujian mampir ditelinga. I’m not ok with that. Dan satu lagi, badanku sudah nggak nyaman dengan bertambahnya bobot. Kalau jalan terasa berat. Apalagi pakaian mulai susah dipake. Aku pengen sehat.

Aku emoh diet dengan mengkonsumi obat, minum teh pelangsing atau lagi ngetrend sekarang ditempatku minum herbal.... sebulan bisa turun sampai sekian kilogram katanya hanya minum shake mereka. Tetanggaku yang gendutnya melebihi aku, sekarang sydah jauh lebih langsing.
Tapi aku tertarik. Ogahhhh.....sayang duitnya. Dulu aku pernah mengkonsumsinya. Tapi itu tak tak bertahan lama. Selain menghabiskan duit dikantong. Aku juga bakalan bosan. Cepet eneg minum shakenya. Ujung-ujungnya setelah nggak konsumsi, badan jadi melar lagi.

Setelah itu aku memutuskan untuk mengurangi konsumsi karbohidrat. Bisa dibilang makanan sehari hari 75 % yang ku konsumsi adalah makanan mentah, yang kubuat salad, jus. Terkadang soup biar nggak bosan. Untuk protein,Aku sering menambahkan tempe, tahu, telur, ikan dan ayam pada salad dan soupku, tapi itu tak setiap hari, tergantung dari mood pengennya apa. Kalau nggak gitu, badanku bakalan lemas.

Awal-awal, Misua pernah complain, supaya aku menghentikan keinginanku untuk mengurangi karbo. Dia khawatir aku sakit. Semua repot ntar.#catatibutakbolehsakit. Sebenarnya sih, menurutku it’snot a reason. Setelah ku kulik kulik..ternyata alasan utama misua ngelarang aku, karena makannya jadi nggak asik lagi. Yang lainnya makan nasi dan lauk pauk yang enak, aku makan sayur sendiri. Apa asiknya coba. Dia jadi fell guilty sendiri. Yaelah.

Bukan hanya misua saja, malah mama juga ikut-ikutan ngelarang aku. Kita sudah lama diajarkan bahwa kalau makan ya harus pake nasi. Kalau nggak makan nasi dianggap aneh. Nasi dianggap satu-satunya makanan pokok. Yang lainnya tidak ada. Meskipun masih ada jagung, singkong, ubi, kacang-kacangan, dll. Tapi begitu deh, tetep saja tak kuturuti. Semakin dilarang, semakin pengen membuktikan that I’m ok ngurangin makan karbo. Lama-lama mereka bosan juga. Dan akhirnya membiarkan aku dengan keputusan yang telah kupilih. Toh dijawa dulu ada istilah puasa ngrowot yang berarti menahan diri untuk tidak mengkonsumsi nasi dan makanan yang terbuat dari beras pada waktu-waktu tertentu. Sebagai gantinya pelaku puasa ngrowot mengkonsumsi sayuran. Buah-buahan, umbi-umbian dll.

Lantas, apakah aku dikatakan berdiet? Hmmm nggak juga. Karena kalau berdiet aku masih lahap dengan yang namanya krupuk. Itu makanan kan digoreng. Dan terkadang masih cheat makan gorengan lainnya.

Sehingga, bila bobotku masih belum turun drastis seperti para pendiet pada umumnya, aku fine-fine aja. Fokus utamaku adalah sehat dulu, kurus adalah bonus.

Etapi.....nggak bisa dipungkiri bila kemarin aku tersanjung, saat berbelanja di warung ada ibu-ibu yang bilang aku kurusan sekarang. Meskipun mati-matian kucoba mengelak Jauh dari dalam lubuk hatiku aku bersorak....yuhuiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii........ada juga yang memuji. Yes! I am normal. Aku masih suka orang memujiku.

Ya sudah gitu aja.

foto diambil dari activitydeck

Comments

Tulisan Beken