Passion #12




Lelaki Misterius

Veasna memandang lelaki bermuka bulat disampingnya dengan tatapan jengkel. Tanpa alasan jelas, lelaki itu memaksanya masuk kedalam mobil.Dia tadi sudah memberontak, namun kekuatannya kalah besar dengan lelaki itu.Wajahnya kaku,muram dan serius menatap kedepan sedang mulutnya tak henti mengunyah kripik kentang di depannya. Tanpa sekalipun menawari Veasna.


“Om…tolong hentikan mobilnya, atau saya akan berteriak keras, om sudah menculik saya”.  Veasna mencoba mengancamnya.

“Siapa takut, berteriaklah sekerasnya”. Kata lelaki itu santai tanpa menoleh pada Veasna.
“Tolong…tolong…tolong! Saya diculik” Veasna berteriak kencang hingga suaranya keras, namun percuma saja. Tak ada yang akan mendengarnya. Jalan yang mereka lewati sepi.

Lelaki itu tertawa terbahak-bahak,suara tawanya terdengar aneh, seperti suara nenek-nenek.
Veasna menjadi putus asa. Dia begitu takut  takkan bisa bertemu lagi dengan ibu, nenek dan kedua adik kembarnya.”Om….saya mau dibawa kemana.Ibu saya orang miskin, takkan bisa menebus saya. Kalau dibunuhpun, percuma, saya orangnya penyakitan”. Dia tidak tahu,siapa lelaki yang berada disebelahnya. Mungkinkah dia orang jahat, yang memakai telepon Tante Langsing untuk menghubungi ibunya. Jangan-jangan Tante Langsing juga disekap, lantas menguras harta Tante Lansing. Dan sekarang menggunakan dirinya sebagai tersangka. Pikiran buruk memenuhi kepala Veasna.

“Hahaahahahahaaha dasar idiot! Siapa pula yang mau menculik dan membunuhmu. Apa kamu kira, tampangku seperti pembunuh, heh? Sudah jangan cerewet. Kamu sebaiknya diam” Matanya mendelik, menatap Veasna.

Tidak ada yang bisa dilakukannya lagi. ”Jangan panik, Allah selalu bersamamu” kata-kata nenek terlintas dibenaknya.Ia memejamkan matanya dan berdoa. Semoga dia tidak diapa-apakan.

Setelah 1 jam berkendara, akhirnya pria itu berhenti disebuah restaurant. Dengan suara dingin. Dia memintanya turun. “Ayo turun, dan jangan berpikiran untuk kabur”.

Melihat restoran ketakutan Veasna hilang dan berganti dengan rasa ingin tahu. Bau masakan dari dapur menggelitik hasratnya yang selama ini terkubur. Ia ingin tahu, apa yang mereka masak. Veasna menghirup dalam-dalam aroma masakan yang terbawa oleh angin.

Lelaki itu membawanya masuk ke restoran dan saat melihat mereka berdua datang. Semua karyawan disana menyapa mereka dengan sopan. Veasna semakin bertanya-tanya. Siapakah lelaki ini? Kenapa orang-orang itu hormat padanya. Mungkinkah dia pemilik restoran ini. Lalu…..apa kenapa dia datang ketempat Tante Langsing, apakah dia Robin Hood?Semua pertanyaan itu hanya berkutat dikepalanya saja, ia tak berani bertanya.Ia mengekor kemanapun lelaki itu pergi.

Sesampainya disebuah kantor, yang ber AC.Lelaki itu menyuruhnya duduk. Lantas lelaki itu keluar meninggalkannya sendirian. Ruang kantor yang ukurannya lebih luas dari kamarnya, membuat dirinya betah. Tadinya yang ingin melarikan diri, sekarang malah asyik menekuri tiap sudut ruangan itu. Disana ada sebuah meja, dua kursi dan sofa berwarna merah yang berada didekat dinding, bersebelahan dengan meja cabinet, yang berisi resep resep masakan dalam bahasa inggris. Tepat dibelakang pintu, tergantung sebuah baju putih yang sering digunakan oleh para Chef. Veasna sering melihatnya di televisi. Tanpa sadar Veasna menghampiri pakaian itu, memegangnya dan membayangkan dirinya yang memakai pakaian itu. Dadanya membusung, senyumnya membikai wajahnya. Bahagianya.

Tok….tok…tok

Sebuah ketukan pintu menyadarkankan dirinya dari lamunan. Seorang waiter masuk membawa baki berisi makanan dan minuman dengan warna yang menggoda mata serta cita rasanya. Dan meletakannya diatas meja.

 “Silahkan dimakan dik” katanya sopan.

Veasna melirik makanan diatas meja itu. “Mba…..ini makanan apa?” Dia terkesima dengan cara penyajian makanan di depannya itu. Dia belum pernah melihat mie yang dimasak dengan kerang seperti itu sebelumnya. Apalagi dengan minumannya. Tanpa sadar, dia berulang kali meneguk air liurnya. Perempuan itu tersenyum melihatnya.

“Spagetthi vongole dan avocado smooties.”

Telinganya melebar, mendengar dua nama aneh yang disebutkan tadi. Veasna menciut. Nama mienya benar-benar aneh. Dia tahunya mie rebus, mie goring, mie tek tek atau mie nyemek yang sering di beli Bu Mul.

“Ini gratis apa bayar mbak”. Tanya Veasna lagi.

“Hmmmm….kalau itu saya tidak tahu, saya hanya bertugas untuk membawa makanan ini saja.”

Celeguk

Mati kutu. Dia langsung lemas mendengarnya. Mana berani Veasna memakannya. Bagaimana kalau nanti dia disuruh bayar. Harga makanan dan minuman ini pasti mahal. Perutnya mendadak kaku memikirkannya.

Pelayan itu pergi. Veasna sendirian lagi. Aroma Spaghetty Vongole memenuhi ruangan itu. Memabukkan Veasna. Dia menghirup aroma itu kuat-kuat, seakan esok tak bisa menghirupnya lagi. Lalu dia menggeser piring itu ke dekatnya. Kerang-kerang yang ada diatasnya seolah mengejek dirinya. Veasna menjadi kesal sendiri, kemudian dia menggeser piring itu lagi, menjauhinya. “Tidak…..kamu tidak enak” Veasna berbicara sendiri.

Tiba-tiba……telinga kanannya terasa panas dan sakit. “Aduh! Jeritnya tertahan. Lelaki gemuk itu sudah berada dibelakang dan menjewer telinganya.

“Berani beraninya kamu bilang masakanku tidak enak, huh. Apa kamu sudah mencicipinya?” Bentak lelaki itu marah.

“Tolong lepaskan dulu jewerannya om, nanti saya jelaskan.” Veasna meringis menahan sakit.
Lelaki itu tak mau melepaskan jewerannya. Sekarang menyuruhnya makan.”Makan....!!

Veasna tak mau, “Tidak mau. Saya tidak punya uang untuk membayarnya” Teriak Veasna keras.

“Hahahahahahhaha....jadi ini alasan kamu, hingga kamu tak berani memakannya. Dasar bodoh! Setelah itu, dia melepaskan tangannya dari telinga Veasna.

Veasna mengusap telinganya yang terasa terbakar. Dia dongkol dengan lelaki dihadapannya itu. 

“Kamu makan apa tidak. Bla tidak, biar kubuang sekarang....”Lelaki itu mengambil piring dengan kasar, dan akan melemparkannya ke dalam tong sampah disebelahnya.

Veasna merebutnya cepat. Seumur hidup dia bakalan menyesal, membiarkan spaghetti vongole terbuang di tempat sampah tanpa ia mencicipinya.

“Eittsssss....tahan om, saya makan sekarang.” Dengan duduk di lantai dengan posisi kaki bersila, dia menikmati spaghetty vongolenya untukk pertama kali. Mulutnya berdecak, dan matanya terbuka penuh kekaguman, merasakan sensasi rasa yang dihadirkan oleh spaghetti vongole.”Ini benar-benar nikmat om” katanya jujur.

Lelaki itu tersenyum tipis, menanggapi perkataan Veasna.

Veasna teringat sesuatu. Nafsu makannya berangsur hilang.

Lelaki itu heran, melihat Veasna tak melanjutkan makannya.”Kenapa....apa kamu menemukan sesuatu yang tidak enak?

Veasna menggeleng. “Apa boleh Spaghetty ini di bungkus, om. Saya mau membawanya pulang, biar ibu, nenek dan kedua adik kembar saya mencicipinya”. Kata Veasna malu.

“Tidak boleh, kamu harus menghabiskannya disini”

Veasna mengangguk.

“Makannya jangan terlalu lama. Sebentar lagi saya ada kerjaan buat kamu.”
Veasna tak membantah, dia menghabiskan tanpa suara sepiring spaghetty vongole dan avocado smooties. Dalam hatinya ingin sekali membawakan makanan lezat ini untuk keluarganya. Bisakah?

Lanjutan Passion 13

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                






Comments

Post a Comment

Tulisan Beken