Passion #13


Chef Toty

“Cepat bawa piringnya ke dapur” Pria berwajah bulat itu berdiri dan berkacak pinggang didepan Veasna.

“Tapi, saya tak tahu dimana letak dapurnya om.....?” tanya Veasna sambil meletakkan piring dan gelas diatas baki.

“BAH....cerewet. Kamu punya akal kan? Cari tahu sendiri...”katanya dengan mata jengah. Lalu dia duduk dan sibuk dengan layar laptop didepannya.


Veasna membuang nafas. Percuma juga bertanya lagi. Dia segera keluar dan pergi kedapur, yang dia tidak tahu tempatnya dimana. Veasna hanya mengandalkan indra penciumannya untuk melacak keberadaan dapur. Lalu ia menyusuri lorong dan menuruni anak tetangga. Kemudian dia berbelok lagi, bau masakan menggelitik indra penciumannya. AHA...pasti dapurnya disana! Matanya menangkap tulisan KITCHEN. Veasna melangkah gembira. Dengan tangan kanannya dia membuka pintu dapur. Matanya terbelalak saat melihat aktifitas disitu. Denting suara penggorengan, minyak yang berdesis, serta suara pisau yang beradu diatas talenan seperti sebuah orkestra ditelinga Veasna. Sejenak anak itu terpana, menyaksikan kesibukan orang-orang bekerja.Dapur itu besar, dengan meja stainless, kulkas, kompor, oven, serta peralatan dapur yang komplet amat memukau penglihatannya. Dia belum pernah melihat hal ini sebelumnya. Wahhhhh...ini benar-benar hebat. Celetuknya.

“Hei......kamu siapa dan mau apa kesini. Ini bukan tempat main-main. Sana pergi” hardik seorang lelaki yang membawa daging sapi ditangannya.

“Saya disuruh om gembul, meletakkan ini didapur”. Jawab Veasna, mengangkat baki ditangannya.

Lelaki itu menautkan alisnya. Dia tersenyum tipis, mendengar Veasna memanggil om gembul. Kemudian telunjuknya mengarah kebagian belakang dapur. Veasna pergi kesana dan meletakkan baki diatas wastafel yang penuh dengan piring dan gelas kotor.

“Eh...jangan pergi dulu. Kamu harus mencuci semua piring dan gelas kotor itu” kata pria berwajah bulat yang sudah ada dibelakangnya.”Itu sebagai pengganti Spaghetty Vongole yang kamu makan tadi”.  Timpalnya lagi dengan wajah dingin.

Celeguk.....Veasna menelan ludahnya sendiri. Dia tidak bisa mengelak, dan memulai pekerjaannya mencuci piring dan gelas kotor. Dan pekerjaan itu seperti tak pernah selesai. Piring, gelas, wajan, panci dan peralatan dapur lainnya seolah tak berhenti datang menghampiri Veasna. Kakinya mulai gemetar dan mulai lelah setelah empat jam berdiri. Jemarinyapun mulai mengkerut karena kedinginan terus menerus bersentuhan dengan air. Di tempat Pak Mul, pekerjaannya tak sebanyak ini. Dia masih bisa melemaskan kakinya. Bila ia capek ia duduk. Tapi disini....jangankan meminta duduk, meminta segelas airpun dia tak berani. Fuhhhhhh.....matanya melihat kearah jam dinding. Ibu dan nenek pasti mengkhawatirkannya. Haruskah dia melarikan diri sekarang, toh om tadi tidak ada disini. Guman Veasna sendiri.

Tok....

Seseorang menjitak kepalanya. Veasna meringis kesakitan.

“Jangan berpikiran untuk kabur,Heh. Awas Kamu! Om itu sudah berdiri dibelakangnya. Ia seperti hantu, datang dan pergi seenaknya sendiri. “Setelah ini, kamu kupas semua bawang itu” Tangannya menunjuk sekarung bawang putih dibelakangnya.

Mata Veasna membulat, dia menelengkan lehernya kekiri. “Semuanya, om” tanyanya ingin tahu.
“Sssshhhhhh....CEREWET” Mata lelaki itu memelotinya.

Veasna mundur, takut. Sebelum lelaki itu berbalik badan, Veasna menghentikan langkahnya lagi.
“Om.....bolehkah saya pinjam teleponnya. Saya mau telepon ibu. Saya takut ibu mengkhawatirkan saya.” Kata Veasna memelas.

“JANGAN BANYAK CINGCONG, KERJAKAN ITU DULU!!”kata lelaki itu sadis. Tangannya mengepal menahan amarah.

Veasna membuang nafas lagi....fuhhhh.....dia tidak mengerti, kenapa om yang telah memberinya spaghetty vongole marah-marah terus? Salahnya dia dimana? Ah......Veasna menelan ludahnya sendiri. Kemudian, dia mengamati dapur. Semua orang disitu masih sibuk, menyiapkan dan memasak makanan. Tak ada yang bersenda gurau. Semuanya tampak serius dan pekerjaannya dilakukan dengan cepat. Sedangkan om yang suka marah itu sibuk berkeliling, memeriksa makanan, sesekali terdengar kata umpatan keluar dari mulutnya ketika melihat anak buahnya berbuat kesalahan. Namun dibalik semua itu, mulut Veasna ternganga saat melihat berbagai macam hidangan yang dibuat oleh para koki dan kemudian dibawa oleh para pelayan ke para tamunya yang telah menunggu pesanan. Pelayan-pelayan itu tampak gesit. Tak ada yang klemar-klemer. Disana dia baru tahu bahwa sebutan untuk pelayan lelaki dan perempuan itu berbeda. Waiter untuk pelayan lelaki, dan waitress untuk perempuan. Veasna tersenyum sendiri.

Lalu...sebuah serbet melayang diatas kepalanya. Disusul teriakan yang ditujukan kepadanya.

“HEH...kamu yang berdiri disitu! Apa kamu sudah selesai mengupas bawang, huh!”
“Belum om....” jawab Veasna lantang.

Om itu mendekatinya. Veasna cepat tanggap, tangannya melindungi kedua telingannya. Namun ia salah, om itu tidak menjewer telinganya, tetapi menjitak dahinya.

Tak.......bunyinya seperti benturan kelereng. Mulut Veasna mengaduh kecil.

“Kamu boleh pilih, mengupas bawangmu sekarang, atau kamu ku cekoki dengan jus bawang?”

Perut Veasna langsung kaku. Hih....apa-apaan, dikasih jus bawang segala. Ogahhhhh. Veasna lalu mengambil pisau dan mulai mengupas bawang. Semangattt! Dia menyemangati dirinya sendiri.

***
Mata Veasna mulai berair, karena bau tajam dari bawang putih. Tangannya juga mulai lelah mengupas bawang satu persatu. Kemudian memisahkan kulitnya. Satu karung bawang putih itu masih tersisa setengah. Rasa bosan menyerangnya. Veasna menghibur dirinya dengan bernyanyi kecil. Kakinya yang kesemutan ia selonjorkan. Ia harus cepat, ia tak boleh klemar-klemer. Ia tak mau dimarahi oleh om gembul tadi. Om gembul itu pasti pimpinan di dapur itu. Buktinya, pekerja didapur semua tunduk dengan perintahnya, tanpa menggerutu. Veasna lalu teringat dengan spaghetty vongole yang disantapnya tadi. Makanan itu enak sekali. Ia ingin sekali bisa memasaknya dan memberikannya pada Ibu nenek serta kedua adik kembarnya Mereka bakalan senang. Mengingat keluarganya, semangat Veasna muncul kembali. Ia tak lagi memikirkan berapa banyak bawang yang masih tersisa. Fikirannya lantas ia alihkan pada hal-hal menyenangkan.

Jam berlalu dengan cepat. Ia tak memperhatikan, berapa banyak waktu yang sudah ia habiskan untuk mengupas sekarung bawang. Sekarang, semua bawang itu terkupas, Veasna lalu membawanya kedapur.

Seorang bapak-bapak berjenggot tipis melemparkan senyum padanya. Sorot matanya terlihat ramah. “Letakkan saja disitu nak......” katanya, sambil menunjuk pada meja stainless didepan Veasna.

“Apa kamu karyawan baru disini?” tanyanya dengan ramah. Sambil tangannya sibuk mengaduk adonan kue.

Veasna menggeleng. “Saya hanya mengikuti perintah om gembul” jawab Veasna polos.
Lelaki itu tertawa kecil. “Om gembul? Maksudmu Chef Toty?”

“Chef Toty? Saya tidak tahu namanya. Yang pasti dia suka marah-marah....dan hobby sekali menjitak kepala...” kata Veasna pelan, takut suaranya didengar oleh orang lain.
Hahahahahahhahahaha......laki-laki itu tertawa terbahak-bahak. Hingga badannya terguncang. Veasna terdiam. Apakah perkataannya lucu.

“Namamu siapa?”
“Veasna, lantas om siapa?

“huss.....jangan panggil om, panggil saja Pak Jhony....”
“baik......Pak.....” Veasna tersenyum
Lantas, dia mengambil kue coklat dari kulkas dan memberikannya pada Veasna.”hayuk cicipin, kamu pasti capek mengupas bawang sebanyak itu.”
Veasna mengangguk, ia memang capek.

“Terimkasih om...eh pak ...” Veasna lalu memakan kue itu dengan lahap. Ternyata masih ada orang baik disini. Kata Veasna dalam hati.





Comments

Post a Comment

Tulisan populer