Passion #14





La Gusto

“Saya tidak mau pulang, Chef. Saya ingin bekerja di La Gusto, saya ingin seperti, Chef”. Veasna berulangkali menggelengkan kepalanya, saat Chef Toty mengajaknya pulang. Mereka sedang berada diparkiran, dan karyawan disana melihat mereka berdua dengan tatapan ingin tahu dengan apa yang terjadi. 

“Dasar plin plan, bukankah tadi pagi kamu merengek ingin pulang, kenapa sekarang berubah pikiran, heh?” kata Chef Toty tak sabar. Teleponnya berdering beberapa kali, dan dia mengabaikannya. 


Veasna tak menjawab. Kakinya dalam posisi waspada. Bila Chef Toty memaksanya masuk. Ia akan menggigit lengannya dan kabur.

“Cepat masuk mobil, aku akan mengantarkanmu pulang! Chef Toty mendengus dan tangannya membuka pintu mobil dengan kasar.

Veasna tak menjawab. Ada alasan kuat kenapa dia tak mau pulang. Ia khawatir, takkan pernah bertemu dengan Chef Toty lagi. Ini kesempatan langka, dan ia harus menggunakan kesempatan itu sebaik mungkin, apapun akan dilakukannya. 

Melihat Veasna tak bereaksi. Wajah gusar tergambar jelas diraut wajah Chef Toty. Ia mengepalkan tangannya. Dan memandang Veasna dengan ekspresi murka. Dia tak mengira, membawa Veasna adalah kesalahan besar. Anak itu benar-benar keras kepala dan sekarang dia yang kena getahnya. Toty memijit keningnya, pelan. “Lakukan saja apa maumu. Aku tak peduli” Lantas ia masuk ke dalam mobil, menghidupkan mesinnya dan meninggalkan Veasna.
Veasna berdiri tegang, Chef Toty tak mempan dengan rengekannya. Ia benar-benar tak menyangka. Chef Toty akan meninggalkannya sendirian. Dengan mata nestapa ia menatap mobil SUV yang dikendarai oleh Chef Toty mulai berjalan menjauh dan beberapa detik kemudian hilang dari pandangannya. 

Veasna membuang nafas kuat-kuat. Hingga terdengar keras dari luar. Sendirian, di tempat yang belum pernah diinjaknya, dan dia tak memegang uang sepeserpun, hati Veasna mulai meragukan keputusannya. Tetapi....dia tak bisa mundur lagi. Veasna duduk di lantai beton yang keras. Ia frustasi, memikirkan langkah apa yang akan diperbuatnya esok pagi.

Malam semakin larut. Udara dingin dengan kejamnya menembus ke dalam pori-pori kulit Veasna. Anak itu menggigil kedinginan. Giginya gemeretuk, menahan hawa dingin yang seakan ingin melumat tulang-tulangnya. Veasna berjalan menuju depan Restaurant La Gusto. Dan bertemu dengan salah seorang satpam yang berjaga disana.

“Hei.....kamu mencari siapa?” Lelaki itu mendekati Veasna.

Veasna sekilas membaca nama yang tertera di baju satpam itu, KARTOLO. “Malam Pak Kartolo, perkenalkan nama saya, Veasna, dan saya sedang menunggu Chef Toty. Saya ingin sekali bekerja disini pak”. Ucapnya ramah.

Mata satpam itu menyelidik. Tadi Chef Toty menelponnya. Apakah anak yang dimaksud sang boss? Katanya dalam hati.

“Pulanglah....percuma juga kamu menunggu Chef Toty disini, dia sudah dari tadi pulang. Dan orangtuamu pasti sedang mengkhawatirkanmu dirumah.” Kartolo mencoba membujuk Veasna.
“Tapi, saya mau menunggu Chef Toty disini pak. Dan saya berjanji tidak akan pulang sebelum saya diterima bekerja disini. Dan saya berjanji tidak akan menyulitkan pekerjaan bapak”. Veasna berupaya meyakinkan Kartolo.

Kartolo hanya berdehem. Dia lantas membuka dompetnya dan memberikan pecahan dua puluh ribu kepada Veasna. Namun…dengan  tegas Veasna menolaknya.

“Saya kan sudah bilang sama bapak, bahwa saya akan menunggu Chef Toty disini, sampai saya diterima kerja.” Pendirian Veasna semakin mantap, dia tak ingin tergoda dengan apapun. Meskipun uang itu sangat dibutuhkannya saat ini.

Kartolo mengusap rambutnya yang klimis. Bau pomade orange menyeruak, menusuk keras hidung Veasna.

“Sini nak, bapak kasih tahu’. Dia membisikkan sesuatu di telingan Veasna “disini banyak hantunya. Disitu ada pocong dan genderuwo. Apa kamu tidak takut. Lebih baik....kamu pulang saja, tidur dirumah, kasihan orangtuamu”. Ia sampai kehilangan akal untuk mengusir Veasna.
Veasna terkekeh.”Kan ada bapak, ngapain saya takut. Kalau pocong atau genderuwonya muncul, saya tinggal bersembunyi di belakang bapak, gampang kan”.

Juederrrr!!!!! Kartolo mati kutu.

Mendengar suara tawa Veasna, kekesalan Kartolo melumer. Ia yang tadinya mau marah, akhirnya tertawa juga. Lelaki itu geleng-geleng kepala, dengan kekerasan Veasna. Dan membiarkan Veasna melakukan apa maunya. “Baiklah......dengan syarat, kamu tidak melakukan hal-hal yang tidak-tidak”.  Paling besok juga dia sudah jenuh menunggu Chef Toty. Pikirnya dalam hati.

“Siaaaaapppppp pak” Veasna mengacungkan dua jempolnya.

 Kartolo tersenyum tipis dan melanjutkan tugasnya lagi, berkelililing mengawasi keadaan.

***
Veasna merasakan sakit disekujur badannya, tangannya juga terasa kaku. Veasna menggeliatkan badannya. Dan ia tersadar, bahwasannya dia semalam tidur di belakang Restoran La Gusto dengan beralaskan koran yang ditemukannya di bak sampah. Suasana disitu masih gelap. Kerongkongannya kering. Dengan mata masih mengantuk, Veasna berdiri dan mencari kran air. Dia tadi melihatnya ada disekitar taman dekat pos satpam. Veasna berjalan menuju kesana, membasuh mukanya dan meminum air sampai puas.

Kartolo melihatnya, dia melambaikan tangan pada Veasna supaya mendatanginya di pos satpam. Kartolo bersama temannya disana. Mereka sedang menikmati kopi dan sepiring pisang rebus. Veasna menelan ludahnya. Melihat pisang rebus, perutnya tiba-tiba lapar. Ia hanya melirik pisang rebus itu, tanpa berani meminta. Dia duduk di bangku panjang yang ada disana.

Krucuk....krucuk....

Kartolo menoleh pada Supardi. “Ampun, baru saja kamu habis mie goreng dua, sekarang kamu sudah lapar lagi, Di”.

“Enak saja nuduh, perutmu kali sob yang lapar.” Supardi menyesap kopinya yang tinggl setengah.

Kartolo menoleh pada Veasna, dan tersenyum tipis. “Kalau bukan kita berdua, berarti itu cacing diperutmu, Veas. Nggak usah malu-malu..sikat saja pisang rebus ini. Tadi aku membawanya dari rumah”. Kartolo menyodorkan sepiring pisang rebus ke dekat Veasna. Veasna mengangguk. Diambilnya satu dan dimakannya perlahan. Terasa nikmat sekali dilidah Veasna. Mungkinkah karena hawa dingin atau karena perut Veasna yang lapar.

“Rumahmu dimana?” Tanya Kartolo pada Veasna.
“Rowo Tamtu..pak”

“Hah.....jauh itu, kamu naik apa kesini, bagaimana kamu kenal Chef Toty?”  ganti Supardi yang bertanya.

“Bukankah Chef Toty punya seorang kakak tinggal disana. Namanya Eliana. Aku pernah beberapa kali bertemu dengannya disini. Tubuhnya besar, kulitnya putih dan wajahnya cantik seperti penyanyi Adele.” Timpal Kartolo. Ia senyum senyum sendiri mengingat pertemuannya dengan kakak sang boss.

Veasna kemudian menceritakan bagaimana dia sampai terdampar di Restoran La Gusto.
Kartolo dan Supardi menyimak.

“Veas, menurutku, sebaiknya kamu pulang saja. Lebih baik kamu cari perkerjaan lain. Disini, pekerjaannya tak gampang, kamu harus punya kemampuan memasak. Tak ada gunanya menunggu Chef Toty. Selain itu dia orangnya pemarah, galak pula. Hih.....ngeri kalau sedang marah. Semua dilemparnya. Aku saja bekerja disini, karena terpaksa. Kalau bukan karena Inul, aku tidak mau bekerja disini”. Supardi menunjuk motor ninjanya yang masih baru.

Veasna tersenyum tipis. Niatnya makin kukuh untuk tetap bertahan disitu.







Comments

Post a Comment

Tulisan populer