Passion #16




Selamat Datang Di “Neraka”

 “Apa kamu sudah yakin akan bekerja disini, nak?” tanya Mandika hati-hati. Dia berusaha menguasai dirinya. Sebagai seorang ibu, raut wajahnya diliputi rasa khawatir dan takut melepas sulungnya sendirian tanpa tempat bernaung di belantara kota. Naluri keibuannya tentu saja ingin melindungi Veasna dan tak ingin anak itu jauh darinya.

Seperti biasa, Veasna memberikan senyum yang meneduhkan hati Mandika. “1000 kali yakin ibu. Ibu, nenek, Kya dan Kissa tidak usah khawatir. Veasna hanya meminta doa kalian, supaya Veasna bisa mengatasi semuanya. ”


“Tapi...nak, dimana kamu akan tinggal. Ibu tak mau kamu jadi gelandangan.Bagaimana kalau hujan, bagaimana kalau kamu sakit, sedangkan kami tak bersamamu.” Mata Mandika mulai berkaca-kaca. Ia sedih membayangkan sesuatu yang buruk menimpa anaknya.

“Tenanglah ibu, Veasna pasti baik-baik saja.” Dipandangnya wajah ibunya lekat-lekat, kemudian memeluknya hangat. Dia bakal merindukan perempuan yang telah melahirkannya nanti.

Mandika sekuat tenaga menahan airmata yang ingin mendesak keluar, sampai dadanya terasa sesak dan sakit, hatinya merasa tercabik telah membiarkan anaknya memilih keputusannya sendiri. Andaikan saja, kehidupan mereka tak begini. Mandika takkan pernah membiarkan anaknya menderita. Mereka berpelukan cukup lama, sampai Tante Langsing datang dan mengajak ibu pulang, kembali kedesanya, karena sopir telah menunggu mereka di depan La Gusto. Mandika teringat tas yang dibawanya, dan memberikan kepada Veasna, dan membuka dompet lusuh miliknya. Di ambilnya tiga lembar uang puluhan ribu dan diberikannya pada Veasna.

“Kamu hati-hati ya nak, jaga dirimu baik-baik. Jangan lupa, sering-seringlah telpon kami. Supaya kami tidak khawatir.” Mandika mengusap airmatanya, yang telah tumpah. Diciumnya wajah anaknya berkali-kali. 

Veasna mengangguk. Ia sedih, dan ia berusaha tegar. “Tolong doakan Veasna, ibu”
Mandika mengangguk, dan mengusap airmata yang mulai menggelinding diwajah Veasna. “Selalu, nak. Ibu akan selalu mendoakanmu, dalam sujud ibu. Bekerjalah yang baik.”

Tante Langsing yang berada disamping Mandika itu memalingkan mukanya, ia tak tega melihat pemandangan mengharukan didepannya. Lantas, keduanya masuk kedalam mobil. Mobil melaju pelan, dan Mandika terus melambaikan tangannya pada anaknya, hinggaVeasna tak melihatnya lagi.

Veasna tercenung. 

Tak berselang lama, Chet Toty sudah berada didepannya, dan langsung memberinya jitakan keras dikeningnya. Ow.....! Veasna menjerit kecil.

“Pertunjukkan dramanya sudah selesai. Kamu mau bekerja atau tidak.” Sungut Chef Toty kesal, tangannya berkacak pinggang.

“Maksud Chef Toty, saya mulai kerja hari ini?” tanya Veasna spontan.

“Tahun depan, dasar bodoh! Umpatnya. Lalu berbalik meninggalkan Veasna. Langkahnya lebar-lebar dan cepat.

Hingga Veasna harus berlari kecil untuk mengikuti Chef Toty sambil mendekap tasnya. Sedang Chef Toty tak sekalipun menoleh padanya. Kemudian dia membawanya ke sebuah kantor yang berbeda lorong dengan ruangan Chef Toty. Berbeda dengan ruangan Chef Toty yang maskulin. Dekorasi ruangan ini terlihat lebih feminim. Disana ada dua meja kayu setengan melingkar yang dilapisi kaca. Dan diatasnya ada tanaman sirih gading yang ditempatkan pada vas bunga nan cantik. Kemudian didinding, disebelah kanan, terdapat beberapa potongan kain batik, yang ditata cantik pada sebuah frame kayu. Dia mengetahui salah satu motif batiknya, yaitu batik  cirebon, yang dulu pernah di pake Pak Mul dan Bu Mul saat kondangan. Dia mengedarkan pandangannya, sambil menunggu Chef Toty selesai berbicara pada Pak Alex, yang menjabat sebagai Manajer di La Gusto dan Ibu Diah, selaku Personalia yang merangkap Akunting disana. Dia mengetahuinya dari cerita Pak Kartolo.

“Veasna sini” Ibu Diah memanggilnya dan menyuruhnya untuk mengisi formulir. Lantas memberi Veasna dua pakaian seragam warna coklat, name - tag, kunci loker serta sepatu boat untuk dipakainya.

“Kamu disini sebagai steward. Dan tolong dibaca dan diingat tugasmu, disini.” Ibu Diah memberikan dua lembar kertas yang berisi peraturan La Gusto dan Job Description untuknya.
“Terimakasih bu” kata Veasna senang.

Kemudian dia berganti pakaian dan menaruh barangnya di loker miliknya. Dan menemui Ibu Diah, untuk mengajaknya berkeliling Restoran La Gusto. Saat mereka melintas, ada nada cibiran dan kasihan dari karyawan disana. Veasna tak acuh, dan memilih mendengarkan penjelasan Ibu Diah.

Sesampainya di dapur, dia diserahkan pada Pak Johny, sebagai Sous Chef. Veasna baru ngeh, dapur La Gusto ternyata luas. Ada 8 koki disana dan dua orang steward termasuk dirinya.HAH!...rasionya tidak sebanding dengan koki disana. Dengan pengalaman baru dan pengetahuan minim. Veasna bekerja hari itu juga, karena ada steward yang berhenti bekerja. Belum hilang rasa kagetnya, Veasna harus dihadapkan dengan mesin dishwasher yang baru pertama kali dilihatnya. Antara rasa gugup dan takut. 

“Bagaimana cara make mesin ini, Pak?”

Pak Johny memberi instruksi singkat, Veasna mengingat baik-baik. Kemudian dia berbalik ke tempat kerjanya, dan meminta Veasna segera mencuci peralatan yang kotor, sebelum Chef Toty datang.

Baru saja Veasna memulai mencuci peralatan yang kotor. Salah seorang koki memanggilnya.
“Hei anak baru, gasnya habis”

Veasna bengong.....Hah...gas? Saya harus ambil dimana? Veasna kebingungan.

“JANGAN HAH- HOH SAJA, CEPAT JALAN. APA KAMU MAU DIMARAHI CHEF TOTY?!!

Nyutttttttttttttttttttttttttttttttt.....otak Veasna langsung penuh seketika. Dirinya tiba-tiba stress melihat semua peralatan dapur.

Kemudian dia melihat sebuah panci melayang kearahnya. Reflek Veasna menghindar. HHHhh...selamat. Veasna bersyukur dalam hati. Dia langsung berlari keluar sebelum panci kedua ditangan Chef Toty dilempar kearahnya lagi. Siapa yang akan dia tanyai? Pak Alex? Bu Diah? Atau Pak Kartolo? Veasna berpikir keras, dan langsung pergi mencari Pak Kartolo. Dan segera menyeret tangannya saat bertemu dengan pria itu.

“Pak...tolong Veasna, gas didapur habis, beli dimana gasnya?” ucap Veasna terengah-engah. 

“Tenang Na, ntar bapak bantu”katanya lembut, dia kasihan melihat wajah Veasna pucat seperti mayat.

“Diaman tempatnya pak, saya tidak tahu” Veasna ingin rasanya ingin menggendong Pak Kartolo, yang jalannya sedikit lamban.

“Dibelakang dapur, kamu belum tahu”

Veasna menggeleng. Mereka berdua meluncur ke belakang dapur, dan segera mengganti gas elpiji berukuran 50 kg disana. Veasna menggantinya sesuai arahan Pak Kartolo.
“Terimakasih Pak...” Veasna bisa bernafas lega.

“Cepatlah ke dapur, kalau disini kelamaan, kamu bisa dimarahi Chef Toty lagi” kata Pak Kartolo mengingatkan Veasna.

“Baik pak” Ia pun melesat seperti roket menuju dapur.

Hari pertama bekerja, terasa begitu panjang. Hari itu ada dinner party. Semua staff sibuk dan dihari pertamanya, Veasna harus menghadapi kegilaan didapur.Tak ada semenitpun waktu untuk bersantai. Berjam-jam ia harus berlari hilir mudik untuk membantu staff disana menyiapkan semua peralatan dan mengambilkan bahan. Selesai satu, yang lainnya berteriak, karena dia lamban bekerja, gara-gara belum tahu apa yang harus diambilnya atau dimana tempatnya berada.

“Ambilkan sauce pan!”
“Hot plate-nya mana!!

“Tongsnya masih kotor, cuci lagi!!

Veasna tak menjawab, kakinya sudah dari tadi gemetar. “Aku harus kuat! Aku harus bisa! Dia menyemangati dirinya sendiri.

Kegilaan itu baru selesai menjelang pukul 11 malam. Semua sudah pulang. Tinggal Veasna yang berada disitu, mencuci peralatan sendirian. Setelah itu, dia mengelap meja, mengepel lantai dan membuang sampah. Sesampainya diloker, badannya begitu lelah, dia duduk di bangku panjang, menyelonjorkan kaki, dan bersandar pada dinding. Beberapa detik kemudian, dia sudah tertidur pulas.





Comments

Post a Comment

Tulisan Beken