Passion #17




Bon Chef
“Salad nicoise untuk meja dua , empat dan delapan. “Bon Chef” “Meja tiga dua Foie grass. “Meja sepuluh, lemon sole with butter cream, ” “Bon Chef”. Meja sembilan, satu creme soup, spring roll dan Beef Bourguignon.’Bon Chef”

“Pan diatas kompor, mata jangan meleng, fokus-fokus!

Telinga dan mata semua koki tertuju pada Chef Toty. Setelah Chef Toty selesai berbicara. Tangan-tangan koki lantas sibuk memainkan api dan  wajan. Tak ada yang berbicara. Mata mereka semua tertuju pada pekerjaannya. Mereka seperti balapan. Semua diburu waktu. Mereka melakukannya dengan cepat. Ada yang mencincang, ada yang menggoreng, ada yang memanggang.


“Ayo-ayo cepat, go..go..go! Chef Toty sesekali berkeliling memeriksa kokinya. Dan ia menjadi tak sabar bila ada salah satu dari mereka yang lambat.

“Butuh berapa lama lagi kamu memanggang roti, heh!! Tamu sudah kelaparan!!

Hawa panas dapur, dentingan peralatan dapur dan caci maki Chef Toty seperti sebuah peluru yang berdesing ditelinga Veasna. Ini seperti berada di tengah medan perang. Veasna juga tak mengerti apa yang mereka ucapkan, nama-nama makanan itu keren terdengar asing dan aneh ditelinganya, yang membuatnya seperti masuk ke dunia lain. Selama ini ia tahunya hanya soto, pecel, sayur lodeh, pepes tahu, terong balado. Bajunya basah oleh keringat.

“Bon chef” Ia meneriakkan nama itu dengan keras.

Chef Toty kaget ketika mendengar suara teriakan dari dalam loker. Saat menuju ke ruangannya.Hampir jam 2 dan restorannya sudah tutup dari beberapa jam yang lalu. Tak mungkin Kartolo, Nemo, Supardi atau Warso. Satpam La Gusto. Beberapa menit yang lalu, dia bertemu Kartolo dan Supardi sedang berkeliling, sedangkan Nemo dan Warso berjaga didepan. Kalau mereka kesinipun, pasti akan berpapasan dengan dia, sebab, lorong ini buntu. Lelaki itu menautkan kedua alisnya. Kemudian dia membuka pintu loker pelan-pelan. Dan melihat di pojok ruangan diatas sebuah bangku panjang, tergolek sesosok tubuh, yang tertidur pulas dengan mulut menganga dengan air liur yang menetes. Berkali-kali dia meneriakkan kata “Bon Chef” dengan nada cemas dan tangan terangkat.

“Bon chef, bon chef, Bangun...!! Tangan Chef Toty yang besar, menjitak keras kening Veasna
Sontak Veasna menggeliat, dan bruk...tubuhnya sukses terjatuh dan kepalanya membentur ujung lemari loker. Seketika matanya terbuka dan langsung sadar, saat melihat Chef Toty sedang berkacak pinggang didepannya. 

“Disini bukan hotel, siapa yang menyuruhmu tidur disini heh!! 

Mulut Veasna terkunci. Ia begitu lelah hingga tak sadar tidur di loker lagi.

“HAYO JAWAB” tangan besar Chef Toty langsung mencengkeram kerah baju Veasna. Ia sangat marah melihat ada salah satu karyawannya tidur di loker.

“Maaf..tadi saya ketiduran, Chef.” Jawab Veasna pelan, tenggorokannya serasa tercekik oleh tangan Chef Toty yang besar. Lelaki didepannya itu menyeringai. Kemudian melepaskan tanggannya dengan kasar. Veasna mengusap-usap lehernya, ia tak berani memandang Chef Toty.

“Selama ini kamu tidur dimana? Suara Chef Toty melunak, matanya menyelidik seperti seorang detektif yang menginterograsi terdakwa.

“Di masjid At-Taqwa, Chef”

Chef Toty mengangguk.”Makannya bagaimana? Kamu nggak nyolong kan?” Pertanyaan yang dilontarkannya pada Veasna makin tendensius.Kedua tangannya menyilang didepan dadanya. Dia memperhatikan Veasna baik-baik. Anak itu, terlihat jauh lebih kurus dari yang dilihatnya pertama kali. Lingkaran hitam tampak menghiasi matanya, pertanda ia kurang tidur.

Veasna menggeleng.” Saya kerja serabutan Chef, kadang jadi tukang cuci di warung padang, kadang diajak marbout masjid bersih-bersih. Kebanyakan jadi juru panggul dipasar. Bila ada uang untuk membeli makanan ya beli. Kalau nggak ada ya puasa.” Nasehat ibu dan nenek, ia pegang teguh. Meskipun mereka miskin, jangan sampai mereka mencuri atau mengemis meminta belas kasihan pada orang lain. 

“Dan apa kamu tahu artinya Bon Chef?”

“Tidak Chef”

“Kenapa tidak tahu, bukankah kamu punya otak?”
“Hmmmm.....koki mau nge-BON sama chef” suara Veasna pelan. Sampai-sampai Chef Toty mendekatkan telinganya.

“Hahahahhahahahahaha” tawa Chef Toty berderai, perut gendutnya sampai bergerak-gerak naik turun mendengar jawaban polos Veasna. “Dasar goblok, Bon chef itu artinya ok chef. Ingat baik-baik itu. Awas kalau lupa.” Ia menepuk bahu Veasna.

“Bon chef” kemudian ia mengambil tasnya di dalam loker, dan pamit pada Chef Toty. “Saya pulang dulu Chef. 

Chef Toty tak menjawab, lelaki itu membalikkan badannya menuju kantornya.
Didepan Veasna berpapasan dengan Pak Kartolo. Sepertinya lelaki itu sedang menunggunya. Selama ini, dia tahu, Veasna sering ketiduran di loker, dan dia bersama teman-temannya sepakat membiarkannya karena kasihan dengan anak itu. Dan Kartolo tak menyangka Chef Toty datang tengah malam. Dan dirinya tak sempat lagi membangunkan Veasna.

“Apa Chef Toty memarahimu Veas?” tanya Pak Kartolo dengan khawatir.
“Nggak pak, tenang saja” 

“Bagaimana kami bisa tenang Veas, kalau dia tahu ada karyawan yang tidur disini, kami semua bisa dipecat.” Timpal Supardi kebingungan.” Ini semua salah Pak Kartolo, yang membiarkan Veasna tidur disini.” Ia menyalahkan Pak Kartolo.

“Kita lihat saja besok” Kartolo meragukan kata-katanya sendiri. Isebagai kepala Satpam, Ia tahu itu memang yang salah, telah melanggar peraturan yang Chef 

Mendengar perkataan Supardi, Veasna membalikkan badannya dan segera berlari ke kantor Chef Toty. Dirinya sangat takut.

“Veasna!! Kamu mau kemana? Teriak Pak Kartolo mengetahui Veasna berlari menuju kantor. “Ah...sialan.” Ia mengumpat sendiri. “Supardi...ayo kejar dia” 

***

Tok..tok...tok 

Dengan nafas masih memburu Veasna mengetuk pintu kantor Chef Toty. Dia menunggu sebentar, tak ada jawaban. Veasna mengetuk pintu lagi dan menempelkan telingan kanannya pada daun pintu. Lamat-lamat dia mendengar suara gerutuan. Veasna menahan nafas. Ia harus bertemu Chef Toty malam ini. Dan bila dalam hitungan ke sepuluh, dia akan mengetuk pintu lagi. Veasna mulai menghitung dalam hati. Satu....dua...tiga...empat...liiiii...dan brukkkkkk...Veasna jatuh terjerembab. Wajahnya menghadap ubin. Saat dia berhitung tadi, bukan telinganya yang ia tempelkan pada daun pintu, tetapi wajahnya. Dan iapun kehilangan keseimbangan saat Chef Toty membuka pintunya tiba-tiba. 

Ugh

Dengan menahan rasa sakit, Veasna menengadahkan mukanya. Ia melihat Chef Toty mengambil botol minuman yang ada tulisan Smirnoff dan menuangkan sebagian isinya ke dalam gelas kecil. Lalu meneguknya dalam sekali teguk.

“Mau tidur disini, heh!! Tatapan Chef Toty tajam, saat melihat Veasna masih belum berdiri.
“Bon Chef...engggggg..tidak Chef” Anak itu segera bangun. “Chef, tolong jangan pecat Pak Satpam, mereka tidak salah Chef, saya yang salah.” Veasna langsung memohon pada Chef Toty, kedua tangannya di tangkupkan didepan dadanya.

“Kamu bicara apa ini, pergilah....aku capek” dia mengusir Veasna. Beberapa kali dia menguap. Matanya sudah teramat kantuk, dan yang diinginkannnya saat ini adalah tidur.
“Tidak Chef......saya mau tetap disini sebelum Chef mengabulkan permintaan saya”

Mata Chef Toty seperti mau melompat keluar, nafasnya mendengus kesal. Anak ini benar-benar menyebalkan. Tangannya lantas meraih walkie talki diatas meja.

 “KARTOLOOOOOOOO CEPAT KESINI!!

Raga Kartolo yang sudah berada didepan kantor seperti terlepas, mendengar suara keras Chef Toty di Walkie Talki. Supardi menyenggol lengan lelaki itu.”Ayo kesana pak” pemuda disamping Kartolo itu gemetar, ia membayangkanlengan Chef Toty mematahkan kakinya. 

“Apa saya harus pake toa untuk memanggil kalian kesini, huh” Chef Toty sudah berdiri didepan pintu. “Cepat masuk!!”

“Iiiyyyyyaaaaa Chef” sahut pak Kartolo dan Supardi berbarengan. Wajah mereka kaku karena tegang.

“Veasna, tolong buatkan aku nasi goreng dan telur sunny side up, dan kalian berdua awasi Veasna. Bila dalam waktu 20 menit, nasi gorengmu belum sampai kesini. Kalian tidak usah repot lagi datang bekerja kesini besok!

“Bon Chef....” kata Veasna lantang. Setelah itu ia berlari.....keluar.

Pak Kartolo dan Supardi hanya bengong. Mereka masih begitu gugup dengan apa yang terjadi.

“Kalian menunggu apa disini, heh....cepat susul Veasna!! Chef Toty berteriak lagi. Suaranya kini makin kencang.

“Iyyya Cheffffffff.......” mereka kelimpungan, dan hampir berdesak-desakan saat mau keluar ke pintu.

Chef Toty menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah mereka.

Veasna memutar otaknya. Ia tahu persediaan nasi didapur tidak ada, tak cukup waktu baginya untuk memasak nasi. Veasna menggigit bibirnya. Ketika ketika dia melihat Kartolo dan Supardi, anak itu segera memanggil mereka berdua.

“Pak...cepetan, saya butuh bantuan kalian. Tolong carikan saya nasi.” Perintah Veasna.
Kartolo segera megerti apa yang dimaksud oleh Veasna. “Supardi belikan nasi putih di warung pangestu. CEPATTTT!!!

Seperti melihat pocong, Supardi segera berlari kencang, mengambil motor dan membawanya melesat ke warung pangestu. 

Sambil menunggu Supardi, Veasna mulai menyiapkan bahan seperti bawang merah, bawang putih, cabe merah, cabe rawit serta kemiri yang ia sangrai. Kemudian bahan-bahan itu ia blender. Lalu ia hidupkan kompor dan menumis bumbu nasi goreng yang telah ia blender tadi. Veasna melihat jam dinding, waktu mereka kurang 12 menit lagi. Dan Supardi belum juga menampakkan batang hidungnya. Veasna terus berdoa dalam hati. Ya Allah....bantulah kami, mudahkanlah urusan kami. Sedang Pak Kartolo berkali-kali ke kamar kecil, ia stress. Dan sudah berpuluh kali menelpon Supardi, namun telponnya tak diangkat. Bahkan Nemo dan Warso yang berjaga didepan, juga diminta mencari nasi “Bapak tidak mau tahu, pokoknya ada nasi putih sekarang!
LeIaki itu semakin panik. Dia berjalan mondar mandir ke depan dan kebelakang.


Barulah hatinya lega....ketika Supardi datang, dengan rambut tak karuan. “Ini nasi putihnya Veas!” Ia datang tergopoh-gopoh bersama Nemo membawa alat penanak nasi.

“Selamet....selamet..selamet” Pak Kartolo mengusap dadanya berkali kali. “Ayo cepetan masak Veas. Nasib kami berada ditanganmu.

Veasna tersenyum, lalu tangannya cepat memasak nasi goreng. “Pak..tolong ambilkan piring, sendok, garpu dan serbet,di pantry.” Kata Veasna bergairah, sambil tangannya mengaduk nasi goreng. Dan Pak Supardi...tolong didihkan air.

Pak Kartolo berlari dan membawa apa yang Veasna inginkan. Sedang Supardi ia tak banyak bertanya, meskipun ia tak tahu untuk apa air mendidih itu.

Kemudian soal telur sunny side up, Veasna belum pernah mencicipi dan sekarang ia harus membuatnya. Veasna mengingat-ingat. Aha! Ia pernah sekali melihat Pak Johny membuatnya. Lalu ia pecahkan dua telur diatas wajan, bunyi minyak mendesis terdengar indah ditelinganya.
Semua sudah selesai, nasi goreng ia letakkah diatas piring, berikut telur sunny side up. Lalu ia siapkan teko kecil, yang telah ia isi dengan air panas, potongan jahe, serai yang telah ia geprek kemudian perasan jeruk nipis. Lalu semuanya ia taruh dibaki dan membawanya ke kantor Chef Toty.

Tok...tok...tok...

Chef Toty membukakan pintu, lelaki itu rupanya masih terjaga, meskipun wajahnya terlihat sangat lelah.

Veasna kemudian menata meja  dan menaruh nasi goreng dan minuman spesial “Silahkan Chef”. Chef Toty duduk disinggasananya. Kemudian mencicipinya, mengunyahnya pelan. Matanya masih memandang Veasna.

Veasna seperti berdiri diatas api panas. Ia begitu gugup. Untuk mengurangi rasa gugupnya, Veasna meminta ijin menuangkan isi teko itu ke cangkir, kemudian memberikannya pada Chef Toty.

“Minuman ini bagus untuk melawan flu, Chef”

Lelaki itu menyesapnya. Rasa hangat menjalari tenggorokannya. Dia tersenyum tipis. Badannya memang tidak enak.

“Aku tidak meminta ini, kenapa kamu membuatnya?

“Saya ingin Chef Toty sehat.” Kata Veasna. 

“Ambillah libur hari ini. Seorang koki bukan hanya menjaga pelanggannya, tetapi dia harus menjaga kesehatannya juga. Tidakkah kamu mau, menularkan penyakit pada pelangganmu, huh! Katanya dengan lembut.

“Chef Toty, memecat saya?” airmata Veasna mulai merebak. Rasa lelahnya sudah memuncak.
“Hahahhahahaha....dasar bodoh! Besok kamu libur, setelah itu masuk lagi.” Dia tertawa, kemudian meneruskan makannya. 

“Bagaimana dengan satpam Chef?” tanya Veasna takut-takut.

“Kenapa mereka? Siapa yang mau memecat mereka. Ssshhhhhh..sekali lagi kamu mengajukan pertanyaan, kupecat kamu!”

“Bon Chef” Bongkahan es, dihati Veasna langsung mencair. Mendengar suara Chef Toty.




















Comments

Post a Comment

Tulisan populer