Passion #20





Kejutan Dari Kampung

Setelah membuka pintu gerbang dan melewati pintu masuk menuju rumah Chef Toty, yang berbentuk gapura, dan diapit oleh tanaman palm merah disisi kiri kanannya. Mulut Veasna lupa dikatupkan, ketika diajak Chef Toty untuk mengelilingi rumahnya. Rumah itu tak begitu besar, namun ditata apik nan elegan. Disana ada satu kamar utama yang ditempati Chef Toty dan dua kamar yang ukurannya lebih kecil. Kemudian, ditengah tengah ruang, terdapat ruang tamu dengan sofa besar yang bersebelahan dengan dapur terbuka yang dibatasi oleh meja marmer berwarna hitam dan bar stool kayu dengan bantalan empuk. Setelah pintu kaca di geser, ruangan itu ternyata menghadap ke taman indoor minimalis yang dilengkapi dengan gemericik suara pancuran air serta dua kursi malas.

Veasna memandang kesekeliling. Dia tak menemukan ruangan yang sangat dibutuhkan saat ini. Toilet!

“Chef.....maaf..toiletnya dimana?”

“Itu diantara dua kamar” Disana ada kaca besar yang tergantung didinding.

Veasna berlari kesana. Mulanya dia bingung, tak melihat ada pintu disana. Namun setelah ia memperhatikan Di sebelah kaca itu ada lekukak kecil, yang digunakan sebagai handle pintu. Dia membukanya, dan meringis saat mengetahui didalamnya terdapat kamar mandi mungil. Yang berisi toilet duduk, wastafel serta shower. Tak ada bak mandi didalamnya. Veasna membasuh mukanya. Setelah itu kembali menemui Chef Toty yang sedang duduk dengan kepala bersandar pada sandararan sofa sambil menikmati segelas red wine.

“Kamarmu disebelah kiri, yang disebelah kanan sering dipakai kakakku bila menginap disini.” Dia menunjuk dua kamar yang dibatasi oleh toilet yang dipakai Veasna tadi. “Oh ya, setelah ini kamu tolong masak, kakakku dan beberapa temannya akan datang. Dan anggaplah ini rumahmu, Veas” timpalnya lagi sambil menyesap red wine yang tinggal sedikit.

Veasna mengangguk dan mengambil tasnya. Lalu masuk kekamar itu. Veasna kembali tertegun. Kamar itu bernuansa putih, perabotannya lengkap ada meja, lemari untuk menyimpan pakaian, tempat tidur dengan kasur spring bed yang dibalut sprei putih halus dan bed cover tebal serta memiliki pendingin ruangan. Tangan Veasna meraba tempat tidurnya, kemudian merebahkan badannya sebentar diatas kasur tersebut. Terasa empuk dan nyaman sekali. Seumur-umur dia baru merasakan nikmatnya tidur diatas kasur seperti ini. Ia ingin tidur sejenak tapi dia lantas bangun mengingat tugas yang belum diselesaikannya.

Chef Toty sudah tidak ada diruang tamu. Veasna langsung membereskan botol wine dan gelas kotor kedapur. Veasna melongok kedalam kulkas, disitu ada beberapa botol red wine dan white wine, telur, roti tawar, keju, tomat dan beberapa buah apel. Kemudian dia membuka laci dapur. Dan menemukan dua bungkus Penne Barilla. Melihat peralatan memasak yang masih kinclong, sepertinya Chef Toty jarang memasak dirumahnya. Dia segera mulai memasak.

Baru saja Veasna akan memasukkan penne ke dalam panci. Telinganya mendengar deru mobil berhenti didepan. Dia mematikan kompor dan membuka pintu. Dan terperanjat ketika mengetahui siapa yang berdiri didepan pintu. Matanya seketika berkaca-kaca melihat nenek, ibu serta kedua adiknya bersama tante Langsing berdiri disana. Kya dan Kissa langsung menghambur kepelukan kakaknya. 

“Kakakkkkkkkkkkk” teriak kedua anak itu meluapkan kebahagiaan setelah lama mereka tak bertemu. 

Veasna menyambut pelukan kedua adiknya dengan hangat. Kya dan Kissa tumbuh semakin besar. Tingginya menyamai ibu mereka. Setelah itu ia bergantian memeluk nenek dan ibunya. Ia sangat bahagia melihat keluarganya datang kesini.

Nenek berulangkali mengusap wajah cucu kesayangannya. Bulir-bulir airmatanya jatuh menggelinding dipipinya yang keriput.”Nenek senang melihat kamu sehat, cuk. Nenek kangen sama kamu.”

“Sama nek, Veasna juga kangen sama nenek.”

“Ayo masuk.....ngobrolnya didalam saja” ucap Chef Toty, dengan mata yang masih mengantuk. Namun senyumnya mengembang diwajahnya.

Tante Langsing masuk duluan, kemudian disusul ibu, nenek. Sedangkan Veasna dibantu Kya dan Kissa membawa oleh-oleh dari kampung yang dibawa keluarganya. 

“Kya, Kissa kalian jangan nakal disini. Setelah membawa barang-barang ini kedalam, kalian cuci muka dan tangan, lihat tuh, tangan kalian kotor dan ingat nggak boleh celamitan.”
Kya dan Kissa memperhatikan kedua tangannya yang tampak kotor. Mereka berdua tersenyum nakal. “Baik kak.....” sahut keduanya kompak.

***

Veasna sudah selesai memasak, dan mulai menata meja dibantu kedua adiknya. Ibu dan neneknya masih berada didalam kamarnya. 

“Kakak....ini makanan apa?” Tanya Kissa yang melihat penne untuk pertama kalinya. Hal itu mengingatkannya pada paralon.

“Penne bolognaise....”

“Peeeeeneeeee boooologggnaise....nama yang aneh” sahut Kya sambil mengunyah permen karetnya.

Veasna langsung memencet hidung Kya. Dan tangannya memberinya isyarat untuk mengeluarkan permen karetnya. Namun terlambat permen karetnya keburu tertelan olehnya.
Kissa yang melihatnya langsung panik lantas tergopoh gopoh membawakannya air.

“Kya....bagaimana kalau permen karetnya nanti tumbuh diperutmu?” tanyanya polos.

Kya yang konyol dan cuek, sepertinya tak peduli dengan kekhawatiran saudarinya. Ia malah menjawabnya begini “Biarin aja, aku tinggal memetik permen karetnya semauku.” Dia membayangkan kepalanya tumbuh permen karet.

Chef Toty yang sedang mengambil air minum didapur tak sengaja mendengar celotehan sikembar. Dirinya langsung tergelak sampai matanya keluar airmata. Ia teringat masa kecilnya saat menghabiskan semua permen karet kakaknya dan untuk menutupi jejak, permen karet itu ia telan. Dan iapun menangis ketakutan saat kakaknya memberitahunya bahwa didalam perutnya akan tumbuh benih permen karet. Sejak saat itu ia tak berani lagi memakan permen karet.

“Kalian sini....” 

Sikembar takut, melihat Chef Toty. Kissa bersembunyi dibalik tubuh Veasna.
“Kalian suka permen nggak? Tanya Chef Toty mendekati Kya.

Mendengar nama permen disebut. Kya serta merta mengangguk. Tapi kemudian dia menggeleng, ketika teringat ucapak kakaknya.

Chef Toty tertawa. “Nanti setelah makan, kalian om ajak ke supermarket, mau nggak?”
Kya dan Kissa melihat kearah Veasna. Tapi kakaknya tak merespon. Mereka kemudian berlari mencari ibunya yang sedang bercengkrama dengan nenek dan Tante Langsing ditaman. Namun mereka kecewa lagi, karena Chef Toty mengajak mereka makan siang.

Saat Chef Toty dan keluarganya makan siang, Veasna tak turut bergabung. Dia tetap berada didapur.

Chef Toty tak mengomentari masakannya, dia makan pennenya dengan diam. Sesekali Veasna melihatnya mengangguk-angguk saat menikmati pennenya. 

“Toty, apa kamu tahu....masakan Veasna benar-benar lezat. Kamu jangan pelit memujinya. Ingat itu lho.” Kata Tante Langsing, menambah pennenya untuk kedua kalinya.

Chef Toty hanya tersenyum tipis mendengar celoteh kakaknya. Ia tak menanggapi. Ia lalu menoleh pada Kya dan Kissa yang makan dengan lahap, kemudian matanya beralih pada Ibu dan nenek Veasna yang tak menyentuh sama sekali makanannya. “Apa makanannya tidak enak bu?”

Ibu dan nenek tergagap mendengar pertanyaan Chef Toty. Keduanya menggeleng.

Dengan malu-malu ibu menjawab,”bukan begitu...kami tak tega untuk memakannya, karena tak menyangka anak saya bisa memasak seperti ini.” Jawabnya berkaca-kaca, ia teringat dengan Veasna waktu membujuk Veasna di restoran La Gusto. Ia bangga dengan keteguhan anaknya.
Hati Veasna bergetar mendengar kata-kata ibunya. Ada semangat baru terpatri dalam jiwanya. Ia harus jadi mewujudkan mimpinya menjadi seorang Chef.

Setelah menyelesaikan makan siang Penne Bolognaise mereka berkumpul diruang tamu menikmati arem-arem dan kue jadah buatan nenek. Rumah Chef Toty yang biasanya sepi, berubah menjadi ramai dengan gelak tawa Kya dan Kissa. Veasna tidak menyangka sama sekali, sikap Chef Toty begitu ramah dengan keluarganya, terutama dengan sikembar. Kya selalu mengeluarkan lelucon-lelucon lucu yang membuatnya tertawa terpingkal-pingkal. Sedangkan Kissa berbaik hati memberinya pijatan dipundak dan kakinya. Tentu saja Chef Toty menerimanya dengan sukacita. 

Kemudian dia mengajak sikembar pergi berbelanja bersama Tante Langsing ke Supermarket. Berhubung ini hari senen. Chef Toty dan Veasna memang tidak bekerja, karena Restoran La Gusto tutup tiap hari senen. Tante Langsing membawa keluarganya kerumah Chef Toty sekalian memberi kejutan pada Veasna yang mulai menetap dirumah Chef Toty.

“Le.....kamu harus baik baik disini. Chef Toty dan keluarganya itu baik. Kalau bekerja jangan malas. Dirumahpun jangan malas juga. Jangan menunggu perintah. “ kata nenek lembut, tangan keriputnya membelai kepala Veasna sayang.

“Ia nek...”jawab Veasna. Ia menghirup dalam-dalam aroma nenek dan ibunya dan membawanya kedalam kalbu.

Comments

Tulisan populer