Passion #21




Gossip
Awalnya Veasna tak menaruh perasaan curiga saat beberapa karyawan menatapnya dengan tatapan jijik dan benci padanya. Namun saat ia pergi ke loker, mengambil buku catatannya. Tanpa sengaja ia mendengar pembicaraan Pak Supardi Dan Pak Kartolo.

“Huss, kita tahu Veasna siapa, tak mungkin dia begitu. Semua butuh bukti, mestinya kamu jangan percaya sama gosip. Gosip makin digosok makin sip”

“Yang ini bukan gosip pak, tapi fakta. Orang bisa berubah, termasuk Veasna.  Ia memiliki keinginan kuat untuk bekerja di La Gusto. Dan bagi Chef Toty itu masalah gampang. Buktinya dia mengajak Veasna tinggal bersamanya, sebab dia menyukai Veasna” Kata Supardi berapi-api


“Fakta gundulmu ireng! Nggak papa to menyukai. Veasna memang anak baik. Sayapun menyukai dia.” Sahut Kartolo.

“Haisssshhhh....Pak Kartolo ini, menyukai disini bukan suka biasa pak, tapi ada rasa cinta.” Lantas dia membuka WhatsApp dan memberikan telepon androidnya pada Pak Kartolo untuk ia baca.

Veasna yang sedari tadi bersembunyi dibalik pintu, langsung merebut ponsel Pak Supardi. Ia tersenyum kecut setelah tahu apa isi WhatsApp pak Supardi. Ia tahu sekarang, kenapa karyawan La Gusto menatapnya jijik.

Kartolo dan Supardi yang melihat itu saling berpandangan. Kemudian tanpa tendeng aling aling. Supardi menginterogasinya seperti seorang pesakitan.Dengan wajah ingin tahu lelaki itu ingin membuktikan kebenaran gosip dari WhatsApp grup karyawan La Gusto yang  diterimanya semalam. Bahwasannya Chef Toty adalah seorang gay. Dan Veasna adalah pacar barunya. Ntah siapa yang memunculkan gosip itu. Yang pasti kebanyakan karyawan disana mengamini, karena selama ini  mereka tak pernah melihat Chef Toty dekat dengan perempuan. Tiap hari dia sibuk bekerja. 

Veasna tak tahu itu, karena ia satu-satunya karyawan disana yang tak ikut grup WhatsApp, sebab dia tak memiliki telepon pintar. Telepon yang dimilikinya telepon jadul yang bunyinya trerererererretut. Selama ini dia fokus bekerja dan tak suka bergosip. Waktu santainya dia habiskan untuk mencatat dan mempelajari apa yang telah dibacanya. Chef Toty meminjamkannya Buku Escoffier. Buku panduan memasak setebal hampir 1000 halaman dan ditulis dalam bahasa inggris. Sedangkan Bahasa inggrisnya masih belepotan. Karena itu tak cukup waktu dan uang untuk kursus bahasa inggris. Maka sebagai gantinya ia membeli kamus bahasa inggris kemudian belajar menterjemahkannya sendiri. 

“Aku nggak nyangka kamu begitu, Veas. Penyuka sesama jenis” Supardi mulai tak sabar melihat Veasna hanya bengong.

Kartolo yang berada disamping Supardi, langsung memelototinya. Namun Supardi sepertinya tidak memperhatikannya.

“Chef Toty tidak memperlakukan saya seperti yang kalian pikirkan. Saya mau bertanya pada bapak, apakah salah seorang owner yang baik,memperhatikan karyawannya karena kasihan melihat  salah satu karyawannya tidur di emperan masjid? Jawab Veasna dengan mata nanar.
Supardi langsung bungkam mendapat jawaban menohok Veasna yang lima tahun lebih muda darinya. Ia beberapa kali membuang nafas dan berjalan mondar mandir sebelum menjawab pertanyaan anak itu “Kamu jangan marah, Veas. Saya hanya ingin mengetahui yang sebenarnya.”

“Dengerin apa kata Kartolo saja deh Pak” jawab Veasna, lantas membalikkan badannya. Ia tak jadi mengambil buku catatan miliknya.
“Makanya dengerin kata-kataku, jangan dengerin gosiper yang tak jelas darimana sumbernya” timpal Pak Kartolo tangannya menepuk pundak Supardi dan mengajaknya kembali bekerja.
***
Setibanya dirumah Veasna tak langsung tidur. Setelah membersihkan diri, ia sempatkan untuk menyetrika baju Chef Toty dan dirinya. Dia tahu untuk berterimakasih dan tahu diri, disana dia hidup menumpang. Tak sepatutnyalah dia diam duduk berleha-leha tanpa melakukan apapun. Dia ikhlas melakukan pekerjaan rumah,seperti memasak, menyetrika dan pekerjaan lainnya. Meskipun Chef Toty tak pernah menyuruhnya.

“Veasna.... apa kamu disitu?”

Veasna mendengar suara langkah berat Chef Toty diruang tamu. “Ia Chef..... “Veasna bergegas menemuinya. Dilihatnya Chef Toty tampak letih. Dia duduk disofa sambil menyelonjorkan kakinya. Ia tadi tak melihat Chef Toty di restoran. Menurut Pak Johny, dia ada meeting dengan salah seorang temannya.

“Tolong buatkan saya wedang jahe seperti yang kamu buat dulu. Dan bawa ke kamar.”
“Ia Chef.... “ Mendengar suara kamar. Suara Veasna menjadi ngilu. Kepalanya setengah berputar, tak urung, dia mengingat gosip yang menerpanya. Bayangan buruk tiba-tiba muncul dikepalanya. Bagaimana ini....... Veasna meremas-remas jemarinya.

Tanpa disadarinya Chef Toty memperhatikan wajah Veasna yang berangsur memutih. “Kamu kenapa Veas, apa ada yang salah dengan permintaan saya.... ?

“Ah...eng, oh... enggak Chef.... “ Veasna kemudian berlari menuju dapur. Membuatkan minuman permintaan Chef Toty. Sikap Chef Toty jauh lebih manusiawi bila berada dirumah. Sedangkan di restoran..hiiiiiii..... galaknya minta ampun. 

Setelah minuman hangatnya jadi, Veasna membawanya ke kamar Chef Toty. Dadanya berdegup tak beraturan. Kakinya gemetar, keringat dingin membasahi sebagian bajunya, meskipun cuaca malam itu dingin. Duh Gusti.... lindungi hambamu, mulutnya tak henti berdoa.
Diketuknya kamar itu pelan. 

“Masuk”

Terdengar suara Chef Toty dari dalam, dan dilihatnya lelaki itu sedang duduk membelakanginya dan sedang memandangi sebuah foto di layar komputer. Veasna melihat sekilas, sebelum Chef Toty menutupnya. Kemudian Veasna meletakkan wedang jahe di meja. Dan cepat-cepat melangkahkan kakinya keluar. Namun karena gugup, kakinya malah tersandung sepatu Chef Toty yang tergeletak dilantai. Iapun jatuh tersungkur. Nampan yang dibawanya berbunyi kelontang membentur lantai ubin.

“Kamu kenapa, heh.... seperti melihat hantu begitu? Chef Toty membantunya bangun.
Muka Veasna semakin putih. Dia begitu takut saat tangan kekar Chef Toty menyentuh lengannya.

 “Tttttiiiiiidddddaaaaakkkkk... kennnnappppaaaa... kennaaappppppa.... cccheeeeeefff...”
“Jangan keluar dulu, Veas “ Chef Toty menyeret kursinya, kemudian mengambil minyak angin dan uang logam lima ratusan.

Veasna makin gugup, “Cccheeeeffffff.... tolong saya jangan diapa-apain.” Ia menangkupkan kedua tangannya ketakutan, dan hampir menangis Ia sangat ketakutan, hingga dirinya tak mampu untuk berpikir lagi.

“Saya tidak akan menyakitimu. Saya cuma minta kamu kerokin saya. Kamu mau apa tidak?”

Veasna masih bergeming.

“Baiklah, kalau kamu tidak mau, tapi.... mulai tadi kuperhatikan sikapmu aneh sekali. Ceritakan sekarang.... kalau tidak kamu tahu akibatnya.” Chef Toty mengepalkan tangan kanannya, lantas meniupnya pelan.

Nyali Veasna makin ciut. Ia tak bisa membayangkan Chef Toty memberinya bogem mentah. Ia tak tahu.... apakah harus bercerita apa tidak. Kemudian.... setelah berpikir kembali, dengan perasaan takut ia ceritakan semuanya pada Chef Toty. Ia tak peduli lagi, apakah Chef Toty akan marah atau tidak. Yang penting dia sudah mengutarakan masalah yang membuatnya ketakutan. 

Tak ada reaksi dari Chef Toty, wajahnya biasa saja menanggapi cerita Veasna. 

“Sebaiknya saya pindah saja dari sini, Chef. Saya tidak mau merepotkan Chef Toty” Kata Veasna bimbang.

Cetakkkkkkkk

Serta merta tangan Chef Toty menjitaknya keras. “Dasar goblok! Kamu mau saja termakan gosip murahan itu. Kamu tahu kenapa mereka begitu, heh? Karena mereka iri dengan kamu. Kalau kamu mau seperti mereka. Silahkan pergi. Tapi kalau kamu mau sukses, fokus ke dirimu sendiri dan abaikan omongan mereka.” Lelaki itu duduk di kursi dan menyesap wedang jahenya beberapa teguk. “ Jujur saja, saya kagum dengan kegigihanmu untuk belajar. Kamu rela bersusah payah untuk mengejar mimpimu. Lantas... apa salahnya saya mengajakmu kesini, karena sayapun ingin membantumu meraih mimpimu itu. Karena dulu juga saya orang miskin seperti kamu Veas. Saya tidak memiliki niat apapun. Apa kamu mengerti sekarang?

Veasna merasa bersalah mendengar penjelasan Chef Toty. Ia ingin bertanya lagi, kenapa Chef Toty belum menikah?Namun,pertanyaan itu tersangkut di tenggorokannya. Sebagai gantinya Veasna mengambil minyak angin dan uang uang logam di depan Chef Toty. “Chef..... mari saya kerokin”

Chef Toty menoleh pada Veasna. “Terimakasih..... tapi sudah telat. Cepatlah tidur. Besok kamu harus kerja kan. Oh ya, terimakasih sudah menyiapkan saya sarapan.” Senyum lebar mengembang lebar.

Fuuuuuuuhhhhhhhhhhhhhhhhh ketakutan di hati Veasna sirna. Anak itu permisi dan kembali meneruskan pekerjaannya yang tertunda tadi.




Comments

Tulisan Beken