Passion # 22





Hujan, Si Lesung Pipi Dan Sebatang Coklat.

Gossip tentang dirinyapun berlalu. Betul apa yang dikatakan Chef Toty, selama dia tak memperdulikannya. Mereka lama-lama akan bosan juga membicarakan dirinya. Veasna kembali fokus dengan perjalanan menggapai mimpinya. Hari-harinya dijalaninya seperti biasa, tak ada yang istimewa. Ia masih melakukan pekerjaannya sebagai steward di La Gusto

Pak Supardi, yang sempat menjauhinya setelah ada gosip soal dirinya. Dan ternyata apa yang mereka katakan tak terbukti. Kini mulai mendekat lagi. Ia tak lagi sungkan menawarkan boncengan pulang ketika shift kerja mereka sama. Ia juga membelanya saat Hamid masih sering melecehkan dia didepan karyawan lain. 


Rumah Chef Toty memang lumayan jauh, dari La Gusto. Untuk menuju kesana, ia harus naik angkot atau ojek. Dan Veasna yang terbiasa hidup prihatin lebih memilih berjalan kaki pulang pergi bekerja. Meskipun Chef Toty berkali-kali menawarkan tumpangan, namun ia tolak. Ia tak mau menambah desas desus dibelakangnya dan tergantung pada Chef Toty. 

Awal Oktober, hujan masih datang malu-malu menyapa. Meskipun datangnya sebentar, namun kehadirannya mampu meneduhkan udara yang kering.

Seperti siang itu, tiba-tiba awan tebal menggantung disebagian cakrawala. Lantas titik titik hujan mulai jatuh ke bumi, membawa aroma tanah yang disukai Veasna. Anak itu memejamkan matanya sejenak. Ada kerinduan yang mendesak dadanya. Kerinduan pada seseorang berlesung pipi. Ia menarik nafas berat, lalu menengadahkan kepalanya menatap hujan. Jemarinya menyentuh hujan.Sesaat ia tenggelam dalam buntala keheningan, yang membawanya melompat pada sang lesung pipi.

“Veasna..... cepatlah, bantu kita memasak” Teriakan Pak Johny menyadarkan lamunannya.
“Maksudnya, pak......? Tanyanya tak mengerti. 

“Cepatlah..... “ Sahut Pak Johny, wajah lelaki itu terlihat tegang. Ia baru saja mendapat informasi ada tiga orang staff yang tidak masuk kerja.Teguh, istrinya sedang melahirkan, Diaz sakit dan Hamid sedang cuti. 

“Tapi... Pak.... saya masih belum bisa memasak” Veasna mengatakannya dengan lirih, Ia begitu gugup. Antara rasa senang, bersemangat dan takut.

“Apa kau bilang? Bukankah kamu sering memasak makanan untuk Chef Toty? Anggaplah tamu itu seperti Chef Toty” pak Johny menjawabnya dengan tajam, lantas mengayunkan langkahnya ke pantry.

Veasna menelan air liurnya, Ia ngeri melihat Pak Johny yang berbeda dari biasanya, hari ini dia menjadi galak. Veasna tak berani membantah lagi. Dan bergegas mengambil posisi berdiri didepan kompor, dan bersiap menerima perintah. Veasna memang sering memasak untuk Chef Toty. Tapi makanan yang ia masak, bukanlah makanan western, tapi makanan Indonesia. Dan Chef Toty lebih menyukai makanan yang bernuansa ndeso. Seperti sayur asem, urap-urap, sayur lodeh, atau bakwan sayur. Dan ia tak bisa berkelit lagi. Pak Johny atasannya. Dan ia harus mematuhinya. Jantungnya semakin berdebar kencang saat menatap jam dinding. Waktu makan siang semakin dekat. Andai saja dia bisa memiliki kekuatan super, dia ingin memundurkan waktu.

Chef Toty datang, dengan raut muka dingin dan mulut terlipat kedalam. Ia mengedarkan pandangan ke semua staff, dan matanya berhenti sejenak memandang Veasna yang berdiri tegang.Tak ada senyum sama sekali diwajahnya. 

Degup jantung Veasna semakin tak beraturan sampai membuatnya tak berkonsentrasi saat Chef Toty membacakan orderan makanan.

BRAAAKKKKKKK....

Tangan Chef Toty Menggebrak meja.
“VEASNA!! Kamu membuat brocoli soup, cepat!
Veasna luar biasa kaget, hingga tak sadar tanganya terangkat keatas dan menyentuh peralatan masak seperti wajan dan panci yang ditaruh diatas. Wajan dan panci itu kemudian jatuh kebawah. Untunglah saat itu belum ada yang memulai memasak. Dengan tangan dan kaki gemetar, Veasna merapikannya kembali.

Chef Toty semakin marah.

“SIAPA YANG MELETAKKANNYA BEGITU. APA KALIAN TAHU.... ITU TADI SANGAT BERBAHAYA!!!

Semua terdiam, tak ada yang bersuara. Semua mata mengarah pada Veasna. Veasna hanya menunduk.“Maaf, Chef.... “

“Cepat lakukan, jangan bengong!!

Veasna mengangguk dan mengambil brokoli. Kemudian memulai memasak. Ia mengingat apa yang telah dicatatnya. Tangannya beberapa kali teriris pisau, gugupnya masih belum hilang

 “KAMU BUTUH BERAPA LAMA, HEH” Chef Toty berdiri dibelakang Veasna

“Iiyyyyya chef...... iiniiii suuuudaaah selesai Cheeeeef” Veasna menuangkan Sup brokoli ke piring saji. 

Chef Toty mencicipinya, “Buat lagi.....” Chef Toty menepuk bahunya keras.

Semua mata tertuju padanya. Veasna bertambah gugup. Kamu bisa Veas. Sup ini gampang. Ia mengafirmasi dirinya.

Namun, untuk ketiga kalinya, Chef Toty menolak sup brokoli buatannya. Rasanya Veasna ingin menangis. Dia merasa gagal.

“Chef.... sampai kapan kita menunggu hidangan Veasna?” Akbar mulai menggurutu, gara-gara Veasna dia terpaksa menunda masaknya.

 Veasna merasa tidak enak dengan tatapan para koki disana yang menatapnya dengan wajah geram.

Kemudian Pak Johny mencicipi Sup brokoli buatan Veasna. “Chef....bukankah sup brokoli enak, dan layak disajikan pada tamu? Pak Johny membela Veasna

“Semua yang keluar dari dapur adalah “taste” saya. Dan itu berarti harus enak. Saya tak peduli siapapun yang memasaknya. Karena ini menyangkut reputasi La Gusto” Chef Toty berbicara dengan pongah.

“Tapi Chef..... tamu tidak bisa menunggu lebih lama untuk sebuah Sup brokoli? Mestinya Pak Johny menyuruh Andi, dia lebih lama bekerja disini.” Kata Ali.

“WELL, BILA KALIAN MENDEBAT SAYA TERUS. SUP BROKOLI ITU TAKKAN PERNAH SELESAI. FOKUS MEMASAK SEKARANG. DAN BIARKAN VEASNA MEMBUATNYA!! Chef Toty menggebrak meja lagi.

“BON CHEFFFFFFFFFFFFF” Mereka berkata serempak.

Setelah itu tak ada yang berbicara dan sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.

Andi yang sedari tadi melihat kekacauan didapur, tersenyum sinis. Hatinya terus mendoakan Veasna supaya dia membuat kesalahan. Sebab hatinya dipenuhi rasa cemburu pada Veasna. Kenapa bukan dia yang berada disana, meskipun itu hanya sifatnya sementara. Tak pernah sekalipun Chef Toty atau pak Johny menyuruhnya memasak. Padahal dia lebih senior dibandingkan Veasna yang baru beberapa bulan masuk. Dan hebatnya Veasna lebih banyak mendapatkan kesempatan daripada dirinya. Jangan –jangan apa yang dikatakan Hamid benar. Anak itu membawa sesuatu. Matanya menyimpan amarah dan sakit hati. Dia mendengus kesal, dan melemparkan serbet yang dipegangnya. Anak itu lantas pergi begitu saja tanpa sepatah kata.

Chef Toty mengetahuinya, dia semakin marah. Cacian dan makian terus terlontar dari mulutnya. Ini weekend,Restoran La Gusto, sedang penuh dan sekarang dia kekurangan staff di dapur. Dan Veasna orang yang terkena semprotannya terus.

Veasna mulai kehilangan rasa percaya dirinya. Ia memejamkan matanya sejenak, dan wajah si lesung pipit terbayang dipelupuk matanya. Gairahnya kembali. Daripada memperhatikan cacian Chef Toty, ia fokus dengan apa yang diperintahkannya. Setelah mengalihkan perhatian, justru ia dapat melakukan pekerjaan dengan baik.

Chef Toty tersenyum tipis, melihat perubahan Veasna. 

Malam menegangkan itupun berlalu. Veasna pulang belakangan, karena harus menyelesaikan pekerjaan yang ditinggalkan oleh Andi. Hampir tengah malam, ia sampai dirumah.  Ketika membuka pintu. Ia  berjingkat masuk, khawatir kedatangannya menganggu istirahat Chef Toty.
“Veasna.... duduklah disini sebentar.” Chef Toty menghidupkan lampu ruang tamu. Lalu ia mengambil dua botol minuman dingin dan coklat kesukaannya dari dalam kulkas. Kemudian memberikannya pada Veasna. “Ambillah... “

Veasna mengambil coklat dan minuman dingin. 

“Apa aku terlalu keras padamu?” Tanya Chef Toty, sambil membuka botol minumannya, kemudian meneguknya perlahan. “jujurlah..... aku takkan marah”

Veasna diam, “saya tidak tahu, chef.... “ Veasna takut salah bicara.
“Apakah kamu pernah ingin meninggalkan dapur?”

Veasna mengangguk.

“Apakah kamu pernah ingin memukulku?”

Veasna menggeleng. “Apakah dulu Chefnya Chef Toty galak.... “tanya Veasna perlahan.
Chef Toty tersenyum tipis, dan mengangguk. Beberapa saat ia mengenang masa lalunya.“Ia, bahkan ia lebih galak. Tak segan ia melempar piring, bila makanannya tak enak.”

“Lantas.... bagaimana Chef Toty bertahan.... ? timpal Veasna lagi. Ia ingin mengetahui ceritanya.

“Karena aku ingin menjadi seorang Chef, dan aku sangat mencintai masakan.”

Veasna mengangguk-angguk. “Chef, bolehkah saya bertanya lagi.... kenapa tadi Sous Chef Johny menyuruh saya menggantikan posisi koki yang berhalangan. Bukankah Andi lebih senior dari saya?” Pertanyaan itu akhirnya keluar juga dari mulut Veasna.

“Sebab kamu lebih layak. Tapi ingat kamu tak boleh sombong. Masih banyak hal yang perlu kamu pelajari.... “

“Ia Chef.... “ Veasna menggigit coklatnya, nikmat. Hatinya serasa dipenuhi banyak kupu-kupu. Wajah si Lesung pipit itu kembali terbayang. “Chef... kalau diijinkan, libur nanti saya mau pulang kampung.”

“Chef Toty mengangguk, dan ia menguap beberapa kali. “ Tidurlah Veas... “








Comments

Post a Comment

Tulisan Beken