Passion #23




Veasna mengembangkan senyumnya saat menginjakkan kaki dirumahnya. Rumahnya masih sama. Nenek yang sedang menyapu halaman langsung melempar sapu yang dipegangnya dan tergopoh-gopoh menyambut kedatangan cucunya.

Dengan berlinang airmata, perempuan tua itu memeluk Veasna. “Hayo cepat masuk, nenek kangen sekali sama kamu.” Tangan keriputnya memegang wajah Veasna dengan tatapan hangat. Semakin dewasa, wajah Veasna mirip dengan anak kandungnya, ayah Veasna yang telah meninggal. Lantas ia membimbing Veasna masuk kerumah.


Veasna mengedarkan pandangannya, tak banyak perubahan. Rumahnya masih sama, yang mencolok ada televisi flat ukuran 17 inci di ruang tamu dan kebun dihalaman dan belakang rumah yang semakin merimbun. Veasna menghempaskan badannya di kursi.Sedangkan nenek, menyeduh minuman di dapur. Veasna menyusulnya.

“Nenek, tak usah repot. Biar Veasna membuatnya sendiri.” Veasna memegang lengan neneknya. Ia merasa tak nyaman, dirinya dilayani seperti tamu.

“Nggak apa-apa, ini hanya teh. Duduklah disitu nak, kamu pasti capek”

Veasna mengangguk. Di atas bale-bale ia mengamati nenek yang sedang menuangkan air panas dari dalam teko untuk teh dirinya. Nenek masih gesit.

Perempuan tua itu meletakkan teh panas yang masih mengepul, beserta rebusan ubi jalar disamping Veasna. Kemudian ia duduk juga disitu, tangannya mengambil satu ubi jalar, mengupasnya dan memberikannya pada cucunya.

Veasna mengambilnya, kemudian memakannya dengan lahap, lalu ia menyeruput tehnya. Suguhan sederhana itu terasa nikmat sekali. Berulangkali ia tersenyum. “Terimakasih nek” Dia mencium pipi neneknya. “Veasna sayang sekali sama nenek, terus sehat ya nek.”

Nenek dan cucu itu tertawa. Tawanya sampai terdengar dari luar. Ibu yang baru datang dari pasar, bergegas masuk dan mendapati keduanya sedang bercerita.

“Veasnaaaaaaa....apa kamu sudah lama datangnya, nak. Kenapa tidak telpon ibu dulu...” Mandika memeluk anaknya. Rasanya ia tak percaya, melihat anaknya tumbuh menjulang melampaui tingginya. Padahal baru beberapa bulan yang lalu mereka bertemu di rumah Chef Toty.

“Bagaimana pekerjaanmu, nak di La Gusto... ? Mandika menyeret kursi kayu ke dekat bale-bale. Dan duduk dekat anaknya.

“Baik.. baik saja bu... “ jawabnya sumringah. Ia kemudian mengambil tasnya dan mengambil dua bungkusan plastik dan amplop didalamnya dan memberikannya pada ibu dan neneknya.
“jangan boros begini nak, uangnya lebih baik kamu simpan ... nggak usah belikan ibu dan nenek ini itu. Melihatmu sehat saja kami sudah bahagia.” Jawab nenek. 

“Iya nak, benar kata nenekmu. Kamu jangan menghambur-hamburkan uang. Lebih baik uangnya kamu tabung. Masa depanmu masih panjang”

“Tidak apa-apa kok bu, nek. Veasna masih ada simpanan. Lagian Veasna ingin sesekali menyenangkan kalian.” Jawab Veasna seraya tersenyum. Ia lalu berdiri “Bu.... aku mau jemput Kya dan Kissa.... “

Mandika melihat pada jam dinding, masih jam 9 pagi. Putri kembarnya pulangnya masih 3 jam lagi. Perempuan itu tersenyum penuh arti. “Kemarin ibu bertemu dengan Alisa di pasar. Dia menanyakanmu.” Mandika melirik anak dan ibu mertuanya yang sepertinya ingin tahu apa yang dimaksud oleh menantunya.

Hati Veasna seketika berdesir, mendengar nama Alisa disebut. “Bbbagaimana diaaaa buuuu.... “
“Dia semakin cantik... “ mata ibunya menyelidik wajah anak sulungnya yang tertunduk malu, menekuri lantai semen. “Pergilah cepat, dia libur sekolah sekarang... “

Seakan tak ingin membuang waktu, dia buru-buru mencari sepeda gayungnya. Tapi tak menemukannya. Ia berteriak menanyakan pada ibunya.

“Sepedanya dipakai adik kembarmu, Veas” Sahut ibu dari dalam.
“Veasna naik angkot saja bu....!! Ia pamit.

“Veasna jangan lama-lama perginya, nenek masih kangen sama kamu...” teriak nenek, tapi teriakannya sepertinya tak terdengar oleh Veasna yang berlari kearah angkot yang sedang menurunkan penumpang ditepi jalan.

Mandika menyentuh lengan ibunya lembut dan membisikinya. “Biarkan saja dia bu... anak itu sepertinya sedang jatuh cinta.” 

Nenek terpana. Ia kemudian lesu. “Mandika, ibu tak mau Veasna cepat-cepat menikah. Anak itu masih terlalu muda.”

Mandika tertawa mendengar perkataan ibu mertuanya. “Ibu ini bagaimana, saya juga nggak mau bu. Perjalanan anak itu masih panjang. Saya ingin melihat Veasna sukses. Jangan-jangan.... ibu melihat berita di Televisi? Mandika melirik ibu mertuanya. Beberapa hari ini di televisi ramai berita soal pernikahan dini. Dirinya bergidik diri. Amit-amit jabang bayi, anaknya tidak ada yang begitu. Telinganya seakan-akan mendengar tangisan bayi dari dalam rumahnya. Pikirannya jadi ribet sendiri memikirkannya.Hiiiiii...

“Kita masak saja yuk bu.... “ Mandika mengajak ibu mertuanya masuk. Ia ingin memasak spesial untuk Veasna

***
Veasna mengetuk pintu rumah bercat putih. Jantungnya semakin tak berirama, menandakan ia teramat gugup, menunggu pintu rumah itu terbuka. Tanpa sadar, berulangkali ia memeriksa pakaian dan membaui keteknya. “harum” ia bergumam sendiri. Waktu berangkat tadi, ia banyak-banyak menyemprotkan pengharum. Semenjak bekerja di La Gusto, ia mulai memperhatikan kebersihan dan penampilan. Chef Toty selalu mengingatkan karyawannya untuk selalu tampil rapi dan menjaga kebersihan, meskipun dirinya sebagai steward. Jangan sampai penampilan berantankan dan bau badan. Beuh....bisa-bisa dilempar sepatu nanti olehnya. Veasna tersenyum sendiri.

Ceklek

Terdengar gagang pintu dibuka dari dalam. Seraut wajah muncul, berdiri didepan pintu. Mata gadis itu membeliak, mulutnya menganga seakan tak percaya siapa yang berdiri didepannya. “Veasssnaaaa.... kamukah itu?” tanyanya gugup, ia merapikan anak rambut yang menutupi sebagian keningnya yang licin.

Veasna hanya tersenyum. Ia menelan ludahnya beberapa kali. Kerongkongannya terasa kering. 

“Halo.... apa kabar...? Veasna mengulurkan tangannya, menjabat lengan Alisa. Saat tangan keduanya berjabatan tangan. Tangan Veasna seperti tersengat listrik, rasanya mengejutkan, sekaligus indah. Jantungnya semakin keras berbunyi, dag dig dig dug. Veasna segera melepaskan tangannya.

“Kamu jahat... kenapa tak pernah datang. Aku sering bertemu ibumu dipasar... “ kata Alisa setengah cemberut. Ia sampai lupa menyuruh Veasna masuk.

Veasna tertawa lagi..... hatinya semakin berbunga-bunga melihat Alisa cemberut. “ kamu sibuk nggak.... kita ngebakso yuk... ?

Alisa menggeleng kecewa. “Maaf.... ibuku sedang sakit. Aku tak bisa meninggalkannya sendirian.”

“Ibumu sakit apa.... ?” tanya Veasna.

“Panas.... beberapa hari ini dia enggan makan.” Raut wajah Alisa berubah sedih.
“Bolehkah, aku melihatnya... ?

Alisa mengangguk, gadis itu tersenyum tipis, ia menyentuh rambutnya pelan. “Maaf... aku sampai lupa menyuruhmu masuk.” Ia mengajak Veasna masuk dan mengajaknya ke kamar sang ibu.

Ibu Alisa, terbaring lemah di ranjangnya. Wajahnya pucat dan bibirnya kering. Veasna mencium tangannya. 

“ini Veasna, teman Alisa saat SMP...” Alisa memperkenalkan Veasna pada ibunya. Perempuan itu mengangguk lemah.

Veasna melihat bubur sumsum yang masih utuh diatas meja. Sebuah ide tiba-tiba muncul dikepalanya. Setelah berbasa basi sejenak ia menawarkan diri membuatkan sesuatu untuk ibunya.

“Yakin.... kamu bisa masak....? ledek Alisa saat mereka berdua berada didapur.
Veasna hanya mengangkat bahunya.

“Di kulkas hanya ada telur, kamu memasak apa untuk ibu?” tanya Alisa pelan.
“Kamu lebih baik, temani ibumu dulu. Biarkan aku memasaknya disini.... okey“ Pinta Veasna.

Dengan berat hati, Alisa mengiyakan, meskipun ia tak benar-benar pergi. Gadis itu diam-diam memperhatikan Veasna dari balik korden. Ia takjub melihat Veasna memasak.

“Kamu masak apa sih Veas... ?” gadis itu dengan tak sabar mendekati Veasna. Bau harum masakan menyeruak.

“Sup telur.... siapa tahu bisa menggugah selera makan ibumu?”

“Hmmm.... baunya enak. Aku boleh mencicipi ya.... “ Rambut Alisa di kuncir ke belakang. Tanpa meminta persetujuan Veasna, gadis itu mengambil sendok dan segera mencicipi sup telur yang masih panas diatas kompor. “Hmmmm..... top markotop. Masakanmu enak... “ dia berjingkrak kegirangan seperti anak kecil. 

Veasna melambung bahagia. “Ayo dibawa ke ibumu..... “

Alisa segera membawakan sup itu ke kamar ibunya . “Ibu..... coba cicipin...” gadis itu menyuapkan sesendok sup telur ke mulut ibunya. Satu suap... dua suap... tiga suap... ibu Alisa hampir menghabiskan supnya. Memakan sup yang panas, membuat wajah ibu Alisa berangsur cerah. Tenaganya berangsur pulih.

“gimana.... enak ya bu...?” tanya Alisa girang.

“Enak sekali.... kamu harus belajar memasak pada Veasna, Lis... “ ibu Alisa tersenyum memandang putrinya. “Terimakasih ya nak.... “ katanya pada Veasna.

Veasna mengangguk.

 “Kamu sekolah dimana.... ?”
“Veasna tidak sekolah bu.... “ jawab Alisa cepat. Ia takut pertanyaan ibunya menyakiti hati Veasna.

“Eh... kok kamu yang menjawabnya nduk, ibu kan tidak bertanya sama kamu...”Ibu Alisa memperbaiki posisi duduknya. Ia bersandar dibantal.
“Saya memang tidak sekolah bu, saya bekerja di restoran di kota.” Jawab Veasna kemudian.
Kepala ibu Alisa bergerak, dan menoleh pada Veasna.”ohya... sebagai apa?” tanyanya ingin tahu.
“Steward bu....”

“Apa itu scuwar?”
“Tukang Cuci piring bu....”

Ibu Alisa langsung menguap. “Nduk.... ibu ngantuk, ibu mau istirahat dulu.” Tanpa menoleh lagi pada Veasna, ia langsung merebahkan badannya dan tidur membelakangi Veasna.
Alisa yang melihatnya menjadi tak enak hati. “Veas.... ayo kita duduk diluar.....”

Tapi....saat mereka melangkahkan kakinya keluar kamar. Sang ibu memanggil Alisa. “Lis.... tolong pijetin ibu.”

“Ibu.... sebentar lagi ya. Alisa masih ingin mengobrol sama Veasna... kami lama tak bertemu “ jawab Alisa lesu.

“Eh.... sudah mau membantah. Cepat pijetin ibu... “
Veasna kecewa. Ia tak enak hati sendiri. “Sebaiknya aku pulang sekarang, sepertinya kamu sibuk...” ia tak ingin membuat Alisa bingung.

“Maaf Veas.... padahal aku ingin sekali mengobrol sama kamu.... “
“Kapan... kapan kita bisa mengobrol lagi kan?” jawab Veasna. Semangatnya yang tadi menyala perlahan redup. Dia lantas pamit.

“Veas... jangan lupa hubungi aku.” Alisa menyelipkan catatan kecil di tangannya.
“Pasti.... “ kata Veasna.

***
Mandika menangkap ketidakberesan pada sikap Veasna sekembalinya dari rumah Alisa. Anak itu mendadak murung. Makanpun sedikit. Padahal waktu berangkat tadi ia ceria sekali.
Ia juga sekedarnya saja saat menanggapi gurauan kedua adik kembarnya, saat mereka berkumpul diruang tamu, menonton televisi.

“Bu.... Kya dan Kissa harus melanjutkan sekolah. Ibu tak usah khawatir dengan biayanya. Saya yang akan menanggungnya.” Katanya tiba-tiba.” Kya, Kissa, kalian mau melanjutkan sekolah nggak?”

“Iaaa kakkkkkk” sahut mereka berbarengan. Mereka menikmati coklat kiriman dari Chef Toty.
Mandika menoleh pada ibu mertuanya, yang juga melihat Veasna. Perempuan tua itu memberi isyarat pada Mandika.

“Veas.... ibu lama tak mengobrol denganmu, ayo kita duduk diluar.... ?” ajak ibu.
Veasna menyeret kakinya lesu, mengikuti ibunya yang menunggunya duduk dibawah pohon mangga, di luar rumah.

“Apa ada masalah di restoran...” kata Mandika memulai percakapan.
Veasna menggeleng. “Tidak ada bu, semuanya baik-baik saja....”
“Alisa, bagaimana.... ?

“Baik.... “ jawab Veasna pendek. Anak itu menarik nafasnya berat. “Bu.... sepertinya Veasna mau pulang malam ini. Banyak pekerjaan yang harus Veasna lakukan besok...” ia mengubah rencananya tiba-tiba.
Mandika tentu saja kecewa. “ Nak.... kami semua masih kangen sama kamu apalagi nenek dan juga adikmu. Kalau boleh ibu pinta, pulanglah besok pagi?











Comments

Post a Comment

Tulisan populer