Sakitnya Harus Berjauhan Dengan Anak Dan Suami




Dari kecil, aku kurang mendapatkan kasih sayang dari ibu. Jiwa terasa kosong dan tak ada ikatan kuat dengan beliau. Maka ketika aku memiliki anak,semua kasih sayang kucurahkan semua padanya. Cintaku padanya begitu besar. Aku masih suka menyuapi Key saat sarapan pagi, Tiap malam kupeluk dan kuusap usap punggungnya menjelang tidur. She is my baby, my happiness. Aku tak bisa jauh dengannya. Namun... kita tak tahu.. rencana Allah. ketika Aku diharukan memilih tetap bekerja dirumah dengan catatan “nrimo” dengan penghasilan warnet  atau mengambil kesempatan kembali bekerja di Bali. Bekerja dibidang hospitality, sesuatu yang memang aku cintai sejak dulu. Melayani orang, bertemu orang baru dan mengaplikasikan  ide dikepala. Adalah sesuatu yang menggairahkan. Aku tak bisa terlalu lama bekerja duduk dibelakang meja.  Bismillah Sambil mengumpulkan uang dan siapa tahu dapat peluang bisnis baru disini. Who knows.....


Aku dan Misua berdiskusi panjang tentang positif dan negatifnya. Bila misua yang bekerja diluar, wong dia juga belum dapat, parahnya aku juga tak bisa handle warnet sendiri, aku ini gapteknya luarbiasa. Selalu kena panic attrack bila ada masalah dengan komputer atau ada pertanyaan clients tentang komputer yang nggak bisa kujawab. Kan malu cuy.... masak pelayanan begitu. Huhuhuuuu...sama aja boong. Bisa bisa pelanggan warnet kabur. Kita nggak mau itu. Sedangkan misua lebih expert, tangannya seperti magic, bisa aja ngerjain. Lah kalo aku... paling dlongop. Sepertinya lebih aman bila aku yang meloncat terlebih dulu. Akhirnya dengan seijin misua, aku mengambil kesempatan bekerja kembali di Bali. Yang berarti harus rela tinggal berjauhan dengan keluarga. 

DEG......
Duhhhhhhhh.... belum apa-apa, airmataku langsung membanjiri pipi. Ngebayangin hidup berjauhan dengan anak wedok kesayanganku. Rasanya hati ini diiris iris. Sakiiitttttt bingit. Pikiran negatifpun langsung muncul, apakah dia tidak apa-apa, gimana kalo dia sakit, gimana makannya, dia kan alergi beberapa makanan, bisakah dia taft, gimana pelajarannya nanti dan lain sebagainya, yang membuat keputusanku maju mundur cantik. 
Tetapi.... keputusan sudah diambil. Aku tak bisa mundur lagi. Apapun resikonya, kami telah sepakat dan harus dihadapi.Kami bertiga lalu  bicara dari hati kehati. Key sudah besar, dia pasti memiliki pendapat sendiri. Mulanya putriku menolak. Wajarlah.... dia ingin keluarga utuh, ada moms dan papanya bersama dia. Namun setelah kami beritahu bagaimana kondisi financial kami. Kami tidak mau menutup-nutupi. esoknya dia bisa mengerti.

“Nggak papa deh moms berangkat. Moms bisa beliin laptop. Nanti kita banyak uang moms” Dia memang request laptop sudah lama. Tugas sekolahnya banyak melakukan presentasi. Namun... apa daya, kami belum bisa membelikannya.
Lega.... bin terharu. Maafkan Moms ya nak.... moms lakukan ini juga demi kamu. Bathin saya menggigil. Airmata lagi lagi jebol. Aku memang super cengeng. Meskipun sudah berusaha menyembunyikan kesedihanku. Tetap ja gagal total. Sedangkan key... dia kuat dan bisa mengalihkan kesedihannya dengan melihat minggyu, artis korea favoritnya.

“Minggyu juga berjauhan dengan orang tuanya ya moms...” tanyanya pendek.

Aku mengangguk. Semua butuh pengorbanan “Mama minta, Key harus tetap semangat belajar dan berprestasi, meskipun mama jauh, ya nak....”

“Jangan khawatir ma.... key tak terpengaruh” katanya menegarkan diriku.
Aku bangga melihatnya, anak itu dari kecil memang bisa survive. Dibawa kemana-mana sama momsnya selalu saja menjadi penenang.

“Kalau mau kemana-mana harus bilang sama mama papa, pekerjaan papa tolong dibantu juga” timpalku lagi sambil memberitahu dirinya apa yang harus dia lakukan.

Dia mengangguk sambil mengibaskan rambut kriwilnya yang habis kupotong sebahu.
"Nggak boleh nangis...." kataku lagi. Padahal aslinya menghibur diri sendiri. hueeee..pletak.
"Santai ja... mom, jangan terlalu didramatisir. Semua akan berlalu.... kalau liburan Key bisa nengok moms... jalan-jalan terus " jawabnya sambil lenggak-lenggok nyobain sepatu hak tinggiku.

Nah...itu..itu yang aku harus pelajari dari Key. Dia bisa tenang dan mengambil sisi positif.  "iya.... kita bisa jalan-jalan nanti nak..."
 
Mengenai pekerjaan.... sebenarnya tidak menyangka, aku bisa kembali ke dunia hospitality  tanpa ribet. Allah maha baik.... ketika aku bilang, aku pengen kerja lagi. Esoknya ada sahabat dengan suka cita mengajakku bekerja.

Sudah lama aku tinggalkan dunia hospitality untuk mengurus keluarga dan menjalankan bisnis sendiri, dan masalah lainnya sekarang aku  pake HIJAB! Sesuatu yang rasanya absurd. Dan syukur alhamdulillah, semua dilancarkan. Ada sahabatku yang masih trust dengan aku. Dia tidak melihat apa yang kupakai sekarang, tetapi melihat value dalam diriku. Dan ini menjadi support bagiku. Bismillah tetap istiqomah.

Namun...., aku masih tak dapat mencegah airmata yang masih sering keluar sendiri. Kadang masih terbersit pertanyaan, apakah keputusan yang kami ambil sudah benar. Apakah kami kurang sabar dengan dengan rezeki yang sudah ALLAH berikan? 
Apakah aku egois? Sampai mengesampingkan anak.
bagaimana misua, sebab beliau selama ini terbiasa dilayani, apakah dia bisa manage semuanya, ya warnet ya pekerjaan rumah. Soalnya kalau perempuan sudah terbiasa menjalani pekerjaan multi task. Sedangkan lelaki tidak.

Dan banyak pikiran-pikiran lagi yang datang menghantui. takut.. khawatir endebra.. endebra... tetapi semua rasa itu ku singkirkan. PASRAH SAJA sama Allah.

Belum lagi kakak dan ibu yang tidak mengijinkan. Mereka khawatir aku sendirian disana, dan khawatir misua keteteran handle anak dan pekerjaan lainnya. Ujung ujungny mereka pada mo ambil alih masalah.

Dengan sangat terpaksa aku menolak keinginan mereka. Dari lajang.... aku sudah terbiasa hidup merantau, dan malu menengadahkan tangan meskipun pada keluarga sendiri. Apalagi sekarang sudah berkeluarga. Masak mo merengek-rengek minta dibiayai hidup. Prinsipku lebih baik memberi daripada menerima. Misua juga begitu. Kami juga mengajarkan pada anak kami begitu. 


Mungkinkah enak... kita selamanya menyandarkan hidup dan menengadahkan tangan kita pada orang lain? Selama bisa berusaha, kami lebih menyukai untuk berusaha sendiri.

Ku pikir lagi dalem.
Sudah hampir 6 tahun kami disini menjalani hidup sabar. Dan kami analisa ekonomi kami, tetep ja stagnan. Semakin lama gejolaknya semakin kencang. Pertengahan 2016 income mulai tak stabil, sedangkan kami masih memiliki tanggungan. Padahal kami sudah menerapkan hidup super duper ketat.


Kalo ada pengeluaran accidential panik dah.Kami hidup bermasyarakat, yang berarti bila ada tetangga/sodara/kenalan yang memiliki hajat, sakit, melahirkan, kematian, tujuh bulanan, sunatan, naik haji, umrah, ulang tahun, bangun rumah sampai pindah rumah kami kudu datang. Dan ada bulan-bulan tertentu, seperti bulan haji, yang acaranya rame banget. Kadang undangan lebih dari 3, belum ditambah acara acara selanjutnya. belum lagi kalau Key ikut lomba dan ada tugas sekolah, belum lagi beras pada habis, komputer rusak... Hiyaaaa..... puyeng manage uangnya. Sedangkan income tak pasti.Kalau sudah nggak tahan, paling bisanya nangis, trus nulis diari, biar nggak stress. Jangan tanya soal tabungan....Jumlahnya sangat menguatirkan, nyaris dititik nol. Sudah lama minta diisi.

 Di situ kami merasa desperade... bukan hidup seperti ini yang kami mau. Kami tak bisa bebas melakukan apapun, kami tak bisa memberi sesuka hati. Padahal disekitar kami banyak yang harus ditolong. Haruskah kami diam menunggu.. tanpa melakukan apapun? Tiap hari dijalani dalam kekhawatiran dan tekanan karena takut tak bisa makan dan bayar hutang. Jiahhhh.... melaz banget.

 Kami harus melakukan sesuatu. Biaya key sekolah makin tinggi nantinya. Sedangkan tak ada investasi apapun. Dan Kami tak memiliki koneksi disini. Kami sudah keder duluan saat ditanya lulusan sarjana apa bukan. Well... kami nggak pernah makan bangku kuliah. Mau jadi driver gojek? kata temenku saja di sini sudah ada 800 driver gojek,yang mengantri masih banyak dan belum di aprove. Takut kali ya...kebanyakan gojek, ntar malah nggak ada penumpangnya... kan lucu bingit bray.

Kenapa nggak jual mobil.... kepikiran tuh... etapi, percuma juga, mobil second, kondisinya juga kurang fit, bakalan murah bingits....

  Lantas.. apa kami tak kepikiran untuk merubah strategi bisnis lain. Sering malah. Soalnya sekarang serba digital Orang sudah pake smartphone. Tetapi ya begitu itu....ujung-ujungnya mentok di modal. Emang bisa modalnya pake daun? hahahhaa...


Pernah juga kepikiran mo jualan baju... online dan offline, jualan nasi sampai mau jadi baby sitter segala saking stucknya. Aku mah...nggak gengsian, selama halal, hajar aja. Tetapi.... disini kebanyakan barangnya dikredit. Waks.... sedangkan aku, orangnya nggak tegaan, ngutangin malah kepentung ntar. udah kejadian soalnya... waktu buka print foto, ada orang yang hutang.. sampai banyak, eh pas ditagih..malah mencak mencak.hiyaaa... yang salah siapa... kok dia lebih galak. Ya udah... akhirnya diikhlasin, daripada kesel sendiri. Dan untuk menjadi baby sitter, misua kagak ngijinin. Key juga... nggak mau.

"Disini beda yank.... jangan disamain dengan Bali."
Auk ah gelap..... aku sewot sendiri.

Kenapa nggak pinjam duit di bank buat modal?  Nay..... pinjam uang di bank untuk modal, sama aja bohong... enak saat trima duitnya doang. Habis itu... eneg bayar cicilannya, tidur nggak tenang, tiap hari dihantui perasaan khawatir. Makasih deh... sudah cukup. Kami mau hidup tenang tanpa mikirin hutang.


Preketek lah dengan omongan dan cibiran orang-orang. Emang mereka care kalau kita lapar, emang mereka mo ngasih duit kalau kita butuh uang... ahai.... enggak lah yaw. Mereka sibuk dengan urusan dirinya sendiri dan hanya bisa cuap cuap, ngejudge sana sini, syukur syukur kagak disorakin. Biasalah kalo pas diatas disanjung sanjung.. pas dibawah diketawain. Nah kalau nggak kita sendiri yang bangkit.. siapa terus yang mau bantu?

Akhirnya aku lepaskan semuanya.... ngikutin arus. Pasrah dengan skenarionya. Aku yakin dibalik kesulitan ada kemudahan. 

  Bukankah Allah tak akan mengubah keadaan kaumnya, bila bukan mereka sendiri yang mengubahnya.

Ya Allah, mudahkanlah urusanku. Tolong lindungi aku, suami dan anakku, Beri kami kesehatan semua, Dan tuntunlah kami dijalanmu.
Think positif... Hidup ini indah. Semua kesenangan, kesedihan, kegalauan, kehampaan hanya sementara. Di nikmati saja. Jadi ingat nasehat seorang sahabat 

“Don’t ever show to people that you are weak, Because you are strong woman...”

 foto diambil dari pinterest

Comments

  1. Hai, Mbak. Apa kabar? Lama saya gak blogwalking ke sini. Semoga apapun permasalahannya, akan berujung dnegan kebahagiaan, ya. Aamiin :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Tulisan Beken