Mengharap Berkah Batu Sikat di Pantai Masceti



Hujan semalaman membuat tidurku nyenyak sekali. Kubuka jendela kamar lebar lebar membawa udara pagi yang dingin nan segar masuk.


Di luar masih gelap, di depan kamar kulihat lantai ubin bàsah. Hujan semalam memang lebat sekali. Aku lalu menyeret kakiku ke kamar mandi mengambil air wudhu lantas dilanjutkan dengan sholat subuh. Rutinitas pagi hariku tergolong cukup padat, sebelum berangkat kerja.Sedapat mungkin aku sibukkan diri. Aku hidup sendiri dan jauh dari keluarga, maka tak ingin kusia siakan waktu berhargaku untuk melamun dan mengeluh. No! 

Setelah sholat subuh..dilanjut mengaji..kemudian meditasi setelah itu yoga atau bila cuaca mendukung dan tidak kepasar aku pergi jalan pagi di sekitar kost. Kadang udara dingin begini kadang membuat kita jadi malas, dan inginnya kembali memeluk guling. 


Seperti pagi kemarin... Aku diajak ibu kost kepasar terus lanjut jalan pagi ke pantai. Kami menggunakan mobil menuju kesana. Rencananya kami pergi ke Pantai Lebih, tetapi disana sedang ditutup karena sedang digunakan sebagai tempat upacara. Maka mbok gek memutar haluan. Aku duduk anteng disebelahnya. 

Tujuh tahun, tak berkunkung ke Bali membuat otakku hang..karena terlalu banyak pembangunan dan crowded. Lagipula aku bukanlah seorang navigator handal. Aku susah menghafal jalan. So kalau kalian memintaku menjadi guide bersiap siaplah untuk tersesat.hahahahaha...pletak gubrak.

Kami lantas sampai di Pantai Masceti, yang berada di daerah Medahan, Blah batu Gianyar. Sebenarnya menuju ke soini secara tak sengaja. Mbok gek asal membelokkan mobilnya. Dan syukurlah kami beruntung pantainya jauh lebih bagus daripada Pantai Lebih.

Matahari masih belum terbit ketika kami tiba disana. Kami berdua lalu menuruni batu batu besar menuju ke pantai. Mataku lantas tertumpu pada sekumpulan orang orang yang berjongkok bukan  hanya laki laki, perempuan juga ada, tak jauh dari tempatku berdiri. Sedang apakah mereka? Apakah mereka sedang mencari emas? Karena kulihat ada yang duduk diatas pasir berkerikil sambil membawa semacam ayakan ditangan mereka.

Rasa ingin tahuku menyeruak... Aku lalu mendekati salah satu dari mereka, seorang laki laki yang sedang mengayak batu batu kecil berwarna hitam. Umurnya ku taksir sekitar 30 tahunan.

"Selamat pagi pak, maaf mengganggu, kalau boleh tahu sedang mencari nggih? Tanyaku sopan.

Sibapak tersenyum ramah."Batu sikat bu" tangannya masih sibuk mengayak batu. " Nanti di jual, perkampilnya 50 ribu" telunjuknya menunjuk pada karung beras 25 kg. Di sini batu sikat di pergunakan untuk memperindah lantai sekarang malah ada yang menggunakannya untuk memperindah Merajan.

Berbeda dengan lelaki tadi, Pak Komang Balik lebih memilih lokasi yang cukup jauh dari sesama pencari batu sikat.Bersama dengan seorang temannya. Mata tuanya awas dan tangannya gesit memilah mana batu sikat diantara kerikil yang dibawa oleh ombak. Dan memasukkannya ke dalam ember plastik.Sesekali dia minggir bila ombak mendekati tempatnya.

Melihat ini...nafasku menjadi berat. Dengan cara begini Berapa lamakah dia bisa mengumpulkan batu batu supaya bisa di jual? Ditambah dengan cuaca yang tidak bersahabat seperti sekarang.Hidup yang sulit...tapi dia tetap bertahan dan terus mencari batu sikat sebagai penyambung hidup, menafkahi keluarga.

Allah.... Kusyukuri segala nikmat yang Engkau berikan.
Semoga mereka semua di beri kelimpahan rezeki.




Comments

Tulisan Beken