Melihat Sisi Baik "Label"


Image result for label quote
quotefancy


Suatu sore, saya menerima panggilan telepon dari seorang teman. Dia mulai menangis saat menceritakan masalah rumah tangganya. Entah sudah berapa puluh kali teman saya bercerita soal hal yang sama, dan tiap kali itu pula meluncur kata kata motivasi dari saya, memintanya supaya bangkit. Tapi selalu saja dibantah dengan jawaban dia tidak bisa, lalu keluarlah kata-kata labeling yang semakin memperburuk citra dirinya sendiri. Duh! Saya membuang nafas jengah. “Belum dimulai saja sudah menyerah.” Grutu saya geregetan, Saya tersiksa sendiri,  mendengarnya. Sebelum saya terkontaminasi, terpaksa saya akhiri percakapan sore itu.



Teman saya bukan saya. Kita sangat jauh berbeda dalam menghadapi masalah. Bahkan dalam tekanan, semakin ditekan level adrenalin saya meningkat. Hal itu memantik keberanian saya untuk memecahkan masalah dan mematahkan semua “label” yang telah mereka sematkan.

Ini hidup kita, dan kita adalah satu-satunya orang yang berhak menentukan apa yang kita mau dan terima. Bukan orang lain.Termasuk soal label. Orang tak berhak mencap kita lelet, bodoh, ndeso, dan memaki maki kita seenak perutnya. Kita berhak menolak, bila kita bukan seperti yang mereka katakan, sebab yang paling tahu diri kita adalah kita sendiri. Bukan orang lain.

Saat kita menerima label, jangan pernah menelannya mentah-mentah. Hadapi saja dengan tenang, meskipun susah. Siapa juga sih yang suka di cap jelek-jelek. Kagak ada yang mau mah. Iya nggak? Tampung saja, kemudian intropeksi diri. Dan ambil sisi baiknya, siapa tahu itu adalah cara TUHAN menyentil kita lewat orang lain, agar kita  lebih menggali lebih dalam siapa kita sebenarnya. Bila kita mau merubah, pasti kita bisa berubah.
Menengok kebelakang. Saya pernah mengalami masa-masa buruk dalam hidup saya, ketika ada orang lain yang ingin merampas paksa kebahagiaan saya. Kemudian banyak menghadiahkan saya label buruk yang sayangnya saya terima tanpa saya filter terlebih dahulu.

Efeknya, hidup saya semakin terpuruk, rasa percaya diri menguap, sebab saya membenarkan semua perkataannya. Seiring berjalannya waktu, wajah saya semakin kucel dan menjadi seorang pengeluh. Sepertinya saya lebih suka memandang kehidupan dari sisi buruknya saja. Dan benar saja, apa yang saya pikirkan dan keluhkan semakin menjadi nyata. Kejadian-kejadian buruk bukannya pergi, malah kerap mampir. Dan menambah situasi semakin sulit. Hidup kami bertambah tak jelas. Payah....hehehehhe.
Butuh waktu enam tahun untuk saya membersihkan label dan emosi negatif yang telah mengotori hati.  Dan itu tak mudah. Perlu kemauan besar dalam diri untuk berubah, apalagi saat saya down dan larut dalam kesedihan, pinginnya berhenti saja. Di situ saya kembali tertantang. Ada perasaan berat, tetapi sekali lagi..saya tidak boleh kalah. Saya ingin membuktikan saya bisa.

Pelan – pelan saya mengumpulkan energi untuk keluar dari zona nyaman. Bekerja keluar pulau. Meskipun jujur, mulanya saya takut, saat memutuskannya. Saya bukanlah seorang lajang, tetapi  seorang istri dan ibu, yang usianya hampir 40 tahun. Ada banyak pergumulan. Ketakutan terbesar saya, mampukah saya dan anak tinggal berjauhan?Sebab kami tak pernah berjauhan sebelumnya. Hubungan kami sangat dekat. Semakin saya membatasi diri, ketakutan-ketakutan lainnya datang  kian menambah berat kaki untuk melangkah. Semakin dipikir, otak saya semakin aktif memunculkan perasan negatif lainnya,dan membuat badan ini gemetar.

“Well, I am young, beautiful, energic, and smart” Saya tarik nafas panjang dan melakukan affirmasi pada diri sendiri. Yeeeey....berhasil! Dengan kesadaran penuh saya melompat kegirangan.

Ternyata setelah saya hadapi, ketakutan itu tidak ada, dia hanya eksis dalam pikiran saja. Kini saya malah enjoy dengan kehidupan yang saya pilih. Hidup sendiri, jauh dari keluarga dan kembali bekerja tenyata bukan pilihan buruk. Kesendirian mengajarkan kita banyak hal dan kemudian menemukan kekuatan tersembunyi yang ada dalam diri. Dengan sendirinya kita dituntut untuk mencari jalan keluar mengatasi semua masalah. Saya menjadi aktif, percaya diri, dan berani.
Kini saya semakin mengerti, mendapatkan label tak melulu buruk. bila disikapi dengan perasaan legowo. Itu jauh lebih nikmat daripada terus menerus mengeluh. Saya survive dan lebih melihat kehidupan dari sisi baiknya. Bersyukur sangat, saya bertumbuh menjadi pribadi yang kuat.
Yuk.... mari kita sama sama bangkit menyongsong hari.


Comments

Tulisan Beken