Ramadhan Nan Sunyi: Cerita Tak Berujung

foto diambil dari interiorim.com


Oughf...matahari siang ini begitu terik. Mataku silau terkena pantulan kaca mobil yang terparkir didepan rumah. Aku melongok sejenak ke jalanan. Tak banyak kendaraan yang berkeliaran, namun setelah jam 3 sore jalanan didepan rumah ramai. Baik yang pulang kerja atau para pembeli yang akan berbelanja untuk kebutuhan berbuka seperti takjil dan lauk pauk lainnya.


Selama Ramadhan didepan pintu gerbang perumahan kami ada pasar kaget. Semakin tahun penjualnya semakin banyak saja. Meskipun hanya selemparan batu dari rumah. Cuma sekali saja aku kesana. Hanya sekedar pingin tahu, apa saja yang mereka jual. Selebihnya aku memilih memasak sendiri dirumah.

Tak seperti ramadhan sebelumnya, ramadhan kali ini lebih sunyi dan tak banyak kehebohan yang kubuat. Misua tak bersama kami. Beliau sedang sibuk bekerja mencari nafkah di perantauan. Padahal, sebelumnya aku yang merantau, dan sudah merencanakan kegiatan supaya tak terlalu ngenes saat puasa jauh dari keluarga. Tapi Tuhan punya rencana lain. Justru misualah yang akhirnya harus berpuasa sendirian di perantauan.

Mungkin karena tidak ada misua, bisa dibilang aku lebih malas, santai, emoh ribet dan maunya makanan yang simple. Menu pembuka seperti es, kolak atau gorengan. Ku hilangkan. Key tak terlalu menyukai es, sedangkan aku memang sangat mengurangi makanan manis. Kebanyakan makanan siapa juga yang akan menghabiskan? Dulu-dulu misualah yang suka menghabiskan makanan kami.

Mungkingkan semua istri sama denganku? Berubah jadi malas bila tak ada misua? Aux ah lap pel. hhehehehhehehe

Terkadang ada feeling empty, yang biasanya bertiga sekarang berdua. Namun, kini Kita jauh lebih tegar menghadapi. Kami sadar tak ada yang permanen, situasi bisa berubah kapanpun, sebab hidup dipenuhi oleh ketidakpastian. Semua sesuai skenario Sang Penguasa Langit.

Kenapa aku bilang demikian, sebab setiap detik apapun bisa berubah. Kita sebagai manusia hanya menjalani dengan sabar dan takwakal, apa yang sudah ditentukan OLEHNYA. Meskipun susah dan menangis darah semua harus dihadapi dengan tenang serta ikhlas. Terima dan jalani tanpa ngersulo. Yah..meskipun sangat sulit. Dan saat ini aku masih berperang melawan keganasan egoku.

Aku tak mau lagi terperangkap menjadi manusia munafik.Selalu berpura-pura menyembunyikan semua rasa, dan memakai segala topeng monyet supaya aku terlihat perfect dan baik. Mengingatnya hatiku menjadi ambruk. Ah..preketek sudah dengan omongan orang. aku diterima baik alhamdulillah, nggak juga nggak masalah.

Ramadhan kali ini memang lebih sunyi, kuambil sisi positifnya sebagai refleksi dan pencarian diri. Apa yang sebenarnya ku inginkan sebagai manusia? Bisakah aku menjadi pribadi yang berguna? Bukan hanya sebagai seorang fidia, ibu, anak dan istri tetapi juga bagi sesama.

Yup...Tinggal sendirian selama enam bulan, telah memberiku pengalaman. Baik suka dan duka yang memperkaya pengalaman bathin. Sifat manusia ternyata bukan hanya sekedar hitam dan putih, ada garis tipis ditengah-tengah, abu-abu.

Etapi....aku baru sadar, tulisan ini dari tadi ngomongin nggak jelas kemana juntrungannya dari urusan makanan terus urusan urusan ikhlas. Maklumlah... detik-detik menjelang berbuka, memang sesuatu banget. Pikiran jadi kurang fokus antara menulis dan mikirin soal makanan. Hahahhahaha..syemmmmmm
Tabik....





Comments

Tulisan populer