#1 Takut Petir Dan Hantu




Ah.... siapa juga yang mau LDR. Ada banyak kekhawatiran yang menghantui. Tetapi ketika kita terpaksa harus menjalaninya, kekhawatiran itu berubah menjadi semangat untuk bisa membuktikan bahwa kita bisa menjalaninya dengan penuh senyum. Celeguk!!


Sebelumnya, aku dulu yang pergi merantau. Awal menjalani Long Distance Relationship, dooohhhhhh!!!Nggak enak banget. Begitu kepala nempel di bantal, mata seperti kran bocor, tes..tes..tes ingat anak dan misua. Kangen dengan kebersamaan dan kebiasaan- kebiasan yang sering kita lakukan. Yang biasanya bobonya di peluk, sekarang kudu rela dan bisa bobo sendiri. Yang biasanya ngelus-ngelus punggung anak menjelang tidur sekarang cuman bisa ngelus boneka. Yang biasanya makan bersama, sekarang harus puas makan sendiri. Memikirkan mereka semakin membuat dada sesak, dan akhirnya tidur dengan bersimbah airmata, hayya! Alhamdulillah, seminggu setelahnya aku bisa adaptasi, karena semua rasa kangen dialihkan ke pekerjaan.

Sengaja dicapein, kerja nggak kenal waktu dan libur, supaya pulangnya capek dan langsung tidur. Supaya nggak mikir macem-macem lagi. Biasalah, kalau sendirian pikiran bawaannya macam-macam, apalagi saat mendengar suara kresek..kresek.. diluar.Hiiiiii.... dalam benakku yang datang adalah si mbak Kunti, mba wewe atau mas gundo. Maklumlah, saat itu aku kos sendirian di Ubud, tak ada tetangga, rumah ibu kos terpisah dan tempatnya sepi pula. Mana di depan halaman banyak tumbuhan. Kalau malam jadi seram.Duh.... jadi gemetaran. Mulut langsung komat kamit baca doa.

Waktu itu, hampir tiap hari, Ubud di guyur hujan. Cuaca Ubud yang dingin,  semakin dingin. Tengah malam yang sunyi, aku dikejutkan oleh suara seperti ledakan yang memekakkan telinga. Di luar hujan deras disertai angin kencang, aliran listrik padam. Aku menggigil ketakutan, suara dentuman keras itu terus terdengar, suaranya seperti diatas kepala,membuat nalarku tidak berjalan baik. Apakah itu suara dari Gunung Agung atau petir. Aku tidak tahu. Gunung Agung memang sedang bergejolak dan siap memuntahkan lava. Badanku lemas. Saat itu Yang bisa kulakukan hanya menangis, meringkuk di pojok kamar. Aku takut sekali. Andai aku di rumah, aku bisa segera memeluk misua atau anakku. Bersama mereka sedikit banyak memberikan ketenangan. Mendekati jam empat pagi, suara gemuruh dan dentuman itu hilang.

Esoknya, di tempat kerja, teman teman bercerita soal suara rentetan dentuman semalam. Ternyata suara itu adalah suara petir, bukan suara letusan dari Gunung Agung. Aku jadi mesem sendiri dan bergumam, sambil memukul kening lebarku pelan. “iya sih, Gunung Agung kan berada di Karang Asem, masak suaranya sampai terdengar di Ubud?” Aku tersenyum dengan keoonan, akibat rasa panikku.

Hal pertama yang harus ku atasi adalah rasa panik. Aku harus bisa mengandalkan diriku sendiri sekarang. Bagaimana supaya bisa tenang disaat aku mengalami ketakutan, terutama petir dan yang menyangkut hal-hal di luar akal misalnya “hantu”. Menyingkirkan pikiran takut di kepala itu nggak gampang. Otakku sudah terkontaminasi  dengan cerita Ibu kos, kalau di sekitar kos aku itu, tempatnya angker, Beliau menunjukkan dimana spot-spot ada penunggunya.

“Dek.... di pelinggih situ penunggunya perempuan, pake baju adat warna putih, terus di pohon cempaka, dua orang nenek-nenek, terus di deket sungai kecil itu kakek-kakek..terus disitu...bla..bla...” Tuinggggg..... aku mengangguk-angguk sok tenang. Padahal, hatiku sudah menciut takut. Ampun dah.... gimana kalau nanti di lihatin.... hiiiii...seyem.

Tetapi... lagi lagi aku berpikir, kalau aku takut terus, apa jadinya nanti. Mau tidak mau harus berani. Masak aku harus menunggu orang lain. Gimana kalau aku kebelet pipis? Gubrak!!!! Cuek dan hadapi sajalah, dengan gagah berani aku berkata pada diriku sendiri. Cieeeee...ceritanya seperti super hero gitu lho.

Sepulang kerja, aku pungut sebuah batu sekepalan tangan di pinggir jalan yang ku lalui. Dan ku simpan dekat pintu dapur. Seandainya ada petir, batu itu bisa ku usap usap. Siapa tahu batu itu berubah jadi kantong doraemon. Jikalau ada hantupun biar ku lempar saja pake batu tersebut. Hahahahahah..makin kacau dah.

Seiring berjalannya waktu. Keberanianku mulai muncul. Aku tidak lagi histeris pada petir, dan kolokan saat mendengar suara aneh. Saat ketakutan mulai menyerang, segera ku alihkan ke hal-hal lain. Dan alhamdulillah itu berhasil.



Comments

Tulisan Beken