#2 Nggak Enak Makan



Apapun makanannya, selama ada krupuk, tak masalah bagiku. Aku bakal melahapnya. Meskipun hanya makan dengan nasi dan sambel orek. Namun, berbeda saat harus tinggal berjauhan dengan anak. Diriku  tak berselera untuk makan. Selezat apapun makanannya, di kerongkonganku terasa ada duri. Gubrak!


Pernah, aku bersama temanku menghabiskan sore dengan pergi ke Restorant dan memesan steak. Bukannya happy menikmati sajian steak medium rare, aku malah  menatap steak didepanku dengan wajah sedih. Dooooohhhhhhh!!!! Ingatanku melayang pada anak wedok. Sedang makan apakah dia sekarang. Jiahhhh... ternyata beginilah nasib emak emak yang jauh dari anaknya. Makan saja selalu ingat anaknya. Hiks! Dan aku butuh lama untuk menghabiskan steak 350 gram itu.

Omongan Abah bener adanya. Beliau dulu sering menelponku sekedar memberi tahu, kalau di rumah sedang banyak makanan. Dan aku hanya tertawa mendengarnya. Mendengar cerita beliau yang selalu ingat anaknya saat makan. Ya Allah, aku baru tahu betapa nyeseknya perasaan itu setelah mengalaminya sendiri

Semenjak saat itu, sebisa mungkin, aku lebih memilih membeli makanan di warung kaki lima. Atau kalau nggak ya makan roti atau buah. Bagaimanapun aku harus makan. Meskipun misua sudah memberiku kebebasan untuk membelanjakan uang yang kuhasilkan.Sayangnya aku nggak bisa melakukkanya. Bukannya eman, tetapi nggak tega aja dengan anak. Wajah anakku selalu kebayang di pelupuk mata. Aku merasa seperti seorang ibu kejam. Daripada setelahnya aku menyesal, mending nggak kulakukan. Halahhhhhhhhhh...... emak-emak banget dah.

Dan nggak tahu kenapa, hal itu juga menular ke misua. Beliau juga tidak tega makan enak sendirian, katanya ingat kita di rumah. Padahal di rumah kita fine-fine aja. Hehehehehe. Emang sih, rasa makanan jauh lebih enak saat makan bertiga. Sebab kebersamaan membuat rasa makanannya jauh lebih nikmat.
Bagaimana cerita kalian?


Comments

Tulisan populer