#3 Cinta Tak Bisa di Kekang


wallpaper

Banyak orang  khawatir saat mengetahui kami menjalani LDR. Bukannya dapat dukungan. Aku malah dapat wejangan panjang lebar. Dengan terang-terangan mereka menakutiku, bagaimana bila seandainya misua memilih jalan berbelok lagi. Bukan hanya mereka saja, anak wedok juga khawatir.  Aku sangat mengerti akan kekhawatiran mereka. Sebab, mereka sayang aku dan tak rela bila misua mengoyak hatiku kembali. Sedang  anakku  takut  mengulang kembali trauma masa kanak-kanaknya.



Semua kuhadapi dengan woles. Kekhawatiran mereka tak kumasukkan ke hati.Pengalaman pahit, hubungan yang up and down, dan melihat perkawinan fake teman-teman telah mengajarkanku banyak hal dan kini pelan-pelan mulai  belajar ikhlas melepaskan kemelakatan. Kita hanyalah manusia biasa yang tak punya daya apapun untuk mengikat kuat segala yang kita miliki. Termasuk orang yang kita cintai. Seberapun kuat kita memegangnya erat bila sudah tak berjodoh, Lantas mau diapakan lagi. Aku pribadi tak pernah memaksakan orang untuk mencintaiku dan memaksanya untuk tetap stay disampingku. No lah! Hal ini juga diamini oleh misua. Kita memiliki pilihan, dengan catatan bila tega dengan anak. Anak wedok memang segalanya bagi kami.

Hal ini sempat kami diskusikan secara intens dan intim. Kami sudah sama-sama dewasa dan lebih santai dalam mengarungi rumah tangga.Kami berdua tidak lagi banyak menuntut, pasangan harus begini dan begitu. Biarlah berjalan apa adanya. Tanpa kerumitan. Sebab perkawinan bukanlah drama korea atau film romantis yang ku gemari. Daripada menakutkan hal yang belum terjadi, lebih baik kami menyibukkan diri ke hal- hal positif dan fokus dengan masa depan anak.

Tujuan kami hanya satu, membahagiakan anak. Sebagai orangtua, kami sadar betul, keegoisan dan tingkah laku kami berdua telah banyak menorehkan luka yang dalam pada dirinya. Apalagi putri kami berulangkali  mewanti wanti supaya kami tetap menjaga komitment. Selagi bisa dipertahankan, dia ingin papa dan mamanya tetap akur.

Ada beberapa orangtua teman putri kami, yang sedang mengalami kegaduhan rumah tangga. Bahkan ada KDRT yang dilakukan di depan anak-anaknya. Dan anak wedok menjadi tempat curahan hati teman-temannya. Sehingga dia tahu betul, bagaimana hancur dan depresinya mereka. Namun kata anakku mereka tak bisa berbuat apa-apa. Cerita ini menjadi catatan penting kami sebagai orangtua. Kita tak bisa memandang remeh anak-anak. Terkadang pemikiran mereka, jauh lebih dewasa dari kita, dari merekalah kita bisa belajar tentang komitmen.

Kami tahu, menjalani LDR itu tak mudah, godaan ada dimana-mana. Bukan hanya pada suami. Godaan itu juga datang pada diriku, dan anakku. Dan hanya pada Allahlah kami bersandar, semoga kami di beri kekuatan untuk menjalaninya.

Comments

Tulisan populer