#4 Aku Bukan Super Woman

foto dewe


“Gampang!” dengan pedenya aku tersenyum setelah melihat video di youtube. Dan bergegas mengambil perkakas, seperti obeng di dapur.
Aku mau mengganti handle pintu sendiri.
Ternyata.....


Hampir dua jam, tanganku memutar obeng, untuk mengeluarkan baut yang menempel keras di handle pintu. Sayangnya, tak sesentipun baut itu bergeser, dia tetep keukeuh diposisinya. Tangannku sampai pegal. Ufh... semakin keras aku mencoba, semakin membuatku frustasi.

Kesabaranku mulai menipis, memandang kunci pintu yang rusak, dengan mimik desperate. OMG! Masak sih buka baut saja aku tak bisa! Gerutuku, menahan airmata yang mulai menggenang di pelupuk mata. Perasaan tak berguna mulai menyerang, aku mulai menyalahkan diriku. Kenapa hal kecil seperti ini tak bisa ku handle. Tanpa ku sadari, selama ini aku mengkotak-kotakkan pekerjaan. Mana tugasku sebagai seorang wanita, dan mana tugas yang harus dilakukan oleh lelaki. Aku tak mau tahu, dan menyerahkan semua masalah “lelaki” pada misua.

Dan lihatlah sekarang, aku kelimpungan sendiri menghadapi handle pintu. Meskipun anak wedok sudah memperlihatkan video di youtube. Namun, aku tak bisa mengikutinya. Padahal kelihatanya gampang banget.Ampun dah.


“Sudahlah, panggil orang saja” kata misua lewat whatsapp.
“Tidak” jawabku pendek. Egoku belum turun. Susah bagiku untuk menyerah.
“Jangan keras kepala, tak semua pekerjaan bisa ayank lakukan sendiri? Ayolah dengarkan kata-kataku” bujuknya lagi. Misua tahu, tak mudah membujuk istrinya. Ia menyadari terkadang keingintahuanku kelewatan.

Aku tak mengindahkan. Dan memilih untuk tetap berusaha melepas baut pintu.
“Ayolah baut, bantulah aku. Apa kamu tidak kasihan melihatku tidur tanpa mengunci pintu?” ucapku berulangkali pada baut. Aku tak lagi memperdulikan tatapan bobo, yang menatap tuannya dengan wajah datar, mungkin dia sudah mahfum, akan kenyentrikan tuannya yang suka memanusiakan benda mati.

Seminggu, dua minggu, sampai tiga minggu, sampai lebaran usai. Aku belum bisa mengalahkan baut. Aku juga menolak, saat sodaraku datang ingin membantu mengganti. Jiah kogpig banget, preketek dah.

“Tolong panggil orang sekarang, aku belum bisa melepas kunci pintunya?” Aku menyerah. Misua benar. Aku bukanlah seorang super woman yang bisa mengerjakan semuanya dengan tanganku sendiri. Dan itu tak memalukan bila Aku masih perlu bantuan orang lain.
“Maaf, aku keras kepala” ketikku lagi, di whatsapp pada misua. Telingaku sudah siap mendengar omelannya.

Smartphoneku berdering. Misua menelpon.
“Hallo....” jawabku hati-hati. Thanks God dia tak memarahiku.
Esoknya, pak tukang datang. Dan tidak sampai 10 menit, baut-bautnya bisa terlepas. WHATTTT!!! Mataku hampir melompat.

Aku tertawa geli, menyadari ketololan yang ku buat. Untung saja, selama 3 minggu itu tidak terjadi apa-apa dengan kami. Ah.... bersyukur banget. Dan aku ingin belajar banyak hal.





Comments

Tulisan Beken