Dalkgalbi Bikin Lengket di Lidah


photo punya dewe


Aku dan anak wedok sama-sama menyukai hal hal yang berbau Korea. Aku suka drama Korea, sedangkan anakku suka boy band korea. Sama seperti anak zaman now, dia bisa teriak teriak histeris saat melihat boy band kesayangannya di Tivi. Emaknya cuma dlongop. Gimana nggak dlongop, meskipun suka banget dengan drama Korea, tetapi jangan di tanya siapa pemainnya. Nggak pernah inget bo. Maklumlah.... wajah mereka kan kembar. Susah ngapalinnya. Hehhehehhe.



Berhubung sama-sama demen Korea, kitapun  pengen ngerasain gimana rasa makanan Korea itu. Apalagi drama Korea suka banget mempertontonkan makanan khas mereka seperti jajanmyeong, Tteokbokki dan lain sebagainya. Yang bikin ngiler. Duh. Sayangnya duitnya nggak sejalan dengan keinginan, atau sebaliknya, waktu nggak tepat, pas uang ada eh anak wedok nggak ada disampingku. Ya sudahlah. Cukuplah mie samyang yang dijual di indomar*t, sebagai pemuas rasa ingin tahuku. Tetapi anak wedok, bisa mencicipi makanan Korea terlebih dahulu bersama teman-temannya. Saat Lippo Mall di buka di kotaku, dan situ ada Gerai Yong Chee Keen.

Nah... tadi anakku pergi ke Lippo mall lagi, ketemuan sama sohib karibnya. Katanya kangen makanan Korea. Halah..gaya anak jam now. Aku bolehin saja, toh cuma sesekali, dan sebagai experience, supaya besok-besok dia nggak kudet amat soal kuliner.

Eh pulangnya, anak wedok memberiku kejutan, dia membawakan aku Dalkgalbi buat buka puasa. Yap, setelah lebaran dua hari, aku langsung puasa mengganti puasa ramadhan, setelah itu lanjut puasa syawal.

Namanya dibelikan anak, hati ini senengnya poll banget.Lalu dengan semangat membara, aku langsung melahap sepotong Dalkgalbi dengan nasi yang memang sudah ada disitu. Hap! Sepotong dalkgalbi langsung masuk ke mulut. Mataku langsung terpejam merasakan sensasi potongan daging ayam yang dibalur dengan tepung dan diberi saos merah bersentuhan dengan lidahku. Mak Jrenggg!! Haikkk... rasanya kok gini. Rasa saosnya yang menurutku over manis sehingga tidak ngeblend dengan ayamnya membuat seleraku langsung meluncur ke level zero.

“Enak ma?” tanya anak wedok.

Mataku mengerjap-ngerjap menahan rasa manis yang menusuk lidah. “mau jawaban jujur apa jawaban fake?” kalau sudah begini biasanya ada apanya nih. Anakku tak menjawab, dia tahu banget lidah emaknya kek apa, sama seperti dirinya.

“Menurut mama, rasa dalkgalbi ini terlalu manis nak, so mama nggak bisa bilang ini enak apa nggak, karena mama belum nyobain dalkgalbi dari restoran lain” jawabku jujur. “Atau lidah mama kali yang nggak menyukai masakan manis” lanjutku lagi, sambil menyuapkan sepotong dalkgalbi lagi ke mulutku. Sambil menahan asa eneg di perut. Sumprit...rasa manisnya kek lengket banget di lidah. Tiba-tiba aku ngebayangin makan sama ikan asin, sambel terasi dan sayur bening. Keknya lebih enak itu dah. Berkali-kali aku minum untuk menetralisir rasa manisnya yang menurutku kebangetan. Akhirnya setelah setengah jam lebih. Dalkgalbi itupun habis.

Bagaimanapun, aku nggak boleh mengecewakan anakku yang sudah bersusah payah membawakanku makanan ini. Suka nggak suka harus di habisin. Eman duitnya lagi kalau kebuang. Hehehehehe....dasar emak-emak, pikirannya selalu ekonomis.

“Terus menurut Key, enak apa nggak?” tanyaku kemudian.
“Rasanya beda dari yang pertama Key beli ma, dulu nggak semanis ini. Dan sekarang ayamnya jauh lebih sedikit.”

“Oh ya? Jawabku tak begitu heran. Ayam sekarang lagi mahal. “Kapan-kapan kalau ada rezeki nyobain makanan Jepang yuk, mama kangen sushi” Mata anakku langsung berbinar. Ada satu kesamaan kami, yaitu suka nyobain kuliner.







Comments

Tulisan populer