# 5 Shocking Mr. Mo

Bobo dan Mr. Mo


Selain hantu, ada lagi yang kutakuti yaitu Tikus! Perutku mendadak kaku bila melihat binatang pengerat ini. Meskipun dia hanya lewat, tanpa mengusik, tapi hal itu sudah membuatku histeris ketakutan dan reflek naik ke atas kursi Hadeeeuuhhhhh!! Padahal bodyku jauh lebih gede dari tikus? Logikanya, mestinya tikus yang takut, eh...malah kebalik. Auk ah gelap. Tapi ya begitulah kenyataannya.


Suatu malam menjelang tidur, ku dengar suara cicit tikus. Kemudian dia melintas di ruang tamu.Ntah lewat mana dia masuk. Hiiiii... maaaakkkkk! Dan akupun sukses menjerit! AARGHHHHHH tikuusssssssssssss!!!!! Pengen rasanya nangis kencang. Tapi malu sama anak wedok.

Karena mendengar jeritanku si tikuspun panik. Dia lari kesana kemari. Sedangkan Bobo, kucing kami yang unyu dan imut, bukannya ngejar tikus. Malah bengong terlihat menikmati adegan itu. “Tangkap Bo! Tangkap Bo! Telunjukku menunjuk-nunjuk tikus. Bukannya bergerak Bobo hanya menatapku dengan wajah jutex. Ughhh, sebellll!!!! Bobo mah gitu, slow motion banget.

Otakku berpikir cepat, siapa yang kumintain tolong malam malam begini? Andai ada misua aku nggak bakalan ketakutan gini. Duhhh!!! Aku langsung menelpon misua, meskipun aku tahu, nggak bakalan bantu juga. Lah dia jauh, dan nggak punya kantung doraemon pula. Gimana bisa nangkep tikus? Hahhahahahah.... aneh emang aku. Misua malah memborbadir dengan pertanyaan, tikusnya bau apa tidak, hidungnya panjang apa tidak.

“Taelahhhh.... meneketehe” jawabku. Boro-boro memperhatikan. Nggak pingsan aja dah untung. Huhuuhuuuu  lebayyyyyyyy.....

“Ma... tikusnya sudah nggak ada” kata anak wedok. Dia jauh lebih tenang daripada emaknya.

“Kemana dia larinya nduk?” Tanyaku. Dengan mimik super duper khawatir. Posisiku masih berada diatas kursi.

Anakku cuma menggeleng.

Mampus dah! Gimana kalau tikus itu datang lagi? Akupun berusaha menenangkan diriku. Aku tak menyangka, tikus masuk rumahku. Ini sudah gawat. Beberapa hari sebelumnya, memang kulihat ada pup tikus di warnet, dan setelah menerima saran temanku supaya memelihara jangkrik jantan sawah untuk mengusirnya. Karena katanya tikus takut dengan suara jangkrik. Tikus di warnet memang kabur. Tetapi aku tak memelihara jangkrik. Suara jangkriknya sengaja ku donlot dari youtube. Temanku tertawa dengan kekonyolanku. Lah sama aja to, yang penting suaranya.

Lewat youtube yang disambungkan dengan bluetooth pada active speaker, anak wedok memutar suara jangkrik. Suaranya sengaja di kerasin supaya tikusnya yang ngumpet mau keluar. Tetapi... di tunggu sampai satu jam, si tikus enggan keluar. Ntah dimana dia bersembunyi.

“Ma.... matiin ya, berisik? Pinta Key melas. Matannya sudah 3 watt, dia berulangkali menguap.

Aku tak bisa berkata-kata apa-apa lagi. Malam itu berlalu sangat lambat, mata ini susah untuk dipejamkan, otakku masih berkutat pada tikus. Aku tak bisa tinggal diam, dan mengharapkan pertolongan orang lain hanya untuk menangkap tikus! Ney.. meskipun dengan keraguan, aku kudu bisa handle ini sendiri. Berani nggak berani harus berani.
Esok sorenya, perangkap tikus yang sudah karatan kubersihkan. Dan aku happy. Ternyata barang itu masih bisa dipakai. Setelah kukasih makanan didalamnya, ku taruh di bawah kursi, sambil berdoa semoga tikusnya rela masuk jebakan. Malam itu...tak ada tikus. Makanannya masih utuh didalam jebakan. Kecewa...hiks.

Besok malamnya, kembali aku menaruh jebakan. Tetapi kali ini di tempat berbeda. Jebakan itu ku letakkan di luar. “Ciiiitttttttttttttttttttttt” lamat-lamat ku dengar suara cicitan tikus dari luar. “Ma... suara tikus”

Aku mengangguk, dan mengajak anak wedok kembali tidur. Cuaca dingin membuatku malas keluar dan memilih bergelung dibawah hangatnya selimut tebal. Urusan tikus besok dah diurusin.

Kalau nggak Bobo yang ngingetin, aku bakalan lupa dengan jebakan tikus. Kucing endut itu bolak balik kelaur masuk rumah, memancing rasa ingin tahuku yang sibuk dengan rutinitas pagi. Eh tumben dia begitu. Tak seperti biasanya, yang duduk anteng di ruang tamu. “Napa Bo?” Tanyaku keras pada Bobo. Tentu saja, kucing itu memilih diam tak menjawab. Matanya melihat pada jebakan tikus yang kupasang.
Kitapun penasaran. “Ma... tikusnya didalam tuh” ucap Key.

Hiyaaaaaa ...dapet! Antara rasa seneng dan takut,aku melihat jebakan. Dan benar, didalamnya ada seekor tikus, moncongnya panjang. Aduh mak, piye iki? Aku menoleh ke anak wedok, berharap dia mau membuang tikus itu. Jujur, meskipun takut sama tikus, hatiku masih teramat lembut, nggak tega untuk membunuh mahluk kecil ini.

“Key takut, ma”

Yahhhhh..gagal dah mengharap anakku. Untuk menunggu Pak sampahpun sepertinya terlalu lama. Dengan mengumpulkan keberanian, aku membawa perangkap itu dan di tanah kosong dekat rumah, ku lepas sang tikus. “Pergilah Kus, tolong jangan balik kerumahku” Tikus itupun pergi.

Saat suami kuberitahu, beliau langsung komen. “Kok nggak telpon pak sampahnya yank, ntar kalo tikusnya balik lagi gimana?”
“Santai Yank, tikusnya udah kukasih sangu” jawabku berkelakar
Gubrakkkkkkkkkkkkkkkkkkk





Note
piye iki = gimana ini
sangu         = uang jajan

Comments

Tulisan populer